Senin, 16 November 2015

Sudut Pandang: Lady Rockers

Mel Shandy sedang menyanyikan
salah satu hits-nya; Bianglala.
Foto-foto: ewe
TAHUN 80an sampai awal 90an adalah era dimana musik rock berjaya di Indonesia. Festival rock digelar dimana-mana dan dari ajang itu muncul grup atau penyanyi rock ternama. Kini, era dimana rock tak lagi secemerlang dulu, agak sulit rasanya sekadar untuk menyebut grup rock yang masih eksis, tentu saja selain God Bless yang melegenda.

Rock, dengan genre mulai metal sampai yang slow, makin jarang hadir di kuping lewat radio, misalnya. Bagi penyuka sejati, tentu saja masih menyimpan lagu-lagu cadas itu di file pribadi yang sesekali, ketika rindu, dinikmati sendiri. Dulu, Djarum dan Gudang Garam (sekadar menyebut nama sponsor) adalah merek yang sering menghadirkan pertunjukan tour musik rock di banyak kota.

Jumat, 13 November 2015

Ramuan Madura

AWAS, hati-hati kamu, calon suamimu itu orang Madura,” mertua saya (waktu itu masih berstatus sebagai calon) menasihati anaknya yang sekarang sudah sekian belas tahun menjadi istri saya.

Saya orang Jember dan sering ketika berkenalan dibilang, “Madura dong?” saat saya katakan asal daerah saya. Baiklah, tentu saya tak perlu ngotot mengatakan bahwa Jember itu bukan salah satu kabupaten di Madura. Jember ya Jember. Tetapi nasib sama barangkali juga menimpa orang dengan asal Bondowoso, Situbondo atau Pasuruan yang sering mendapat cap sebagai reng Madureh.

Jangankan di pulau Jawa atau seantero Indonesia yang selalu terdapat orang Madura, di tanah suci Mekah pun konon banyak sekali mukimin yang asal Madura. Inilah yang menyebabkan ada dua kelompok orang Madura; negeri dan swasta. Paling tidak demikian yang pernah saya baca dari artikel Mas Edi 'Akhiles' Mulyono yang ternyata selain berdarah Sumenep juga berdarah Jember. (Wah, boleh dong kalau saya anggap beliau sebagai tretan, saudara satu Jember?) Madura negeri adalah orang Madura yang lahir, besar dan bermukim di Madura sepanjang hayat dikandung badan. Sedang Madura swasta adalah orang Madura yang bermukim di luar pulau Madura sampai akhir hayat.

Di Jember, wabil khusus di desa asal saya, tidak seratus persen (keturunan) Madura. Dominasi tentu saja suku Jawa, sebagian berasal dari Ponorogo atau Mataraman. Tetapi dengan saban hari srawung (bergaul) dengan orang Madura yang masih menggunakan bahasa Madura, sedikit banyak ada juga pengaruhnya. Logat bicara, umpamanya. Di desa saya, walau bahasa sehari-hari yang dominan dipakai adalah bahasa Jawa, tetapi nadanya sudah lain dengan Jawa asli, Jawanya sudah tidak medok lagi, tetapi Jawa kagok. Sudah ada nada Maduranya.

Masih di desa saya, penduduk yang asal Madura terbagi di tenggara dan barat laut. Sementara yang di tengah, timur dan barat jan Jawa deles. Entah bagaimana dulu awal pembagian wilayahnya. Keuntungan ketika dulu saya bersekolah berbaur dengan teman-teman dari dusun Bregul dan Sembungan (wilayah dengan mayoritas keturunan Madura, tempat pondok pesantren Bustanul Ulum yang mayoritas santrinya berasal dari pulau Madura), adalah kami bisa secara alami saling belajar bahasa. Makanya tidak heran bila di kampung kami anak orang Jawa (seperti saya ini contohnya) bisa berbahasa Madura, pun demikian pula sebaliknya.

Bisa berbahasa lain tentu tak ada ruginya. Misalnya ketika saya melakukan transaksi membeli ikat pinggang atau mainan untuk anak saya dengan PKL di Surabaya ini, dengan menggunakan bahasa telok lemak, saya bisa mendapatkan harga yang wajar. Seorang Madura swasta asal Pasuruan yang tiap malam menjajakan jagung rebus di gang depan rumah, membungkus lima buah jagung rebus untuk uang limaribu rupiah yang saya bayarkan, padahal untuk orang lain ia menjual duaribu per buah, Mungkin dengan mengunakan bahasa mereka secara fasih, saya dianggap sebagai tretan dibik, saudara sendiri.

Selain ulet, pekerja keras, rajin dan teguh dalam pendirian, salah satu yang terkenal dari Madura adalah ramuannya. Ramuan Madura, Anda tentu pernah dengar dan saya pernah mencobanya. Saya dapati kopi adalah bahan utamanya. Padahal siapa pun tahu Madura bukanlah penghasil kopi. Tak masalah, yang penting khasiatnya, Bung!

Sekarang sedang hangat pembicaraan tentang Madura yang akan berdiri sebagai propinsi sendiri, melepaskan diri dari Jawa Timur. Sebuah wacana yang sangat tidak tabu dan tak perlu buru-buru dipandang sebagai kehendak yang agak anu. Coba, apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang Madura?

Maka, ketika mereka mempunyai ramuan rahasia agar sapi karapan bisa berlari kencang seperti kesetanan, bukan tidak mungkin para tokoh yang sedang menyusun pembentukan propinsi Madura ini juga telah menyiapkan ramuan khusus nan mujarab dan bukan sekadar ramuan oplosan yang memabukkan demi sekadar mengincar jabatan *****


Rabu, 11 November 2015

Brosur

'DIBANDING pasang iklan mini di koran, lebih manjur pakai brosur yang dimasukkan kotak surat di perumahan,” kata seorang kenalan yang biasa menangani floor drain buntu di tempat kerja saya. “Lebih mengena, dan saya justru sering dapat job dari cara itu,” imbuh lelaki gondrong yang selain menangani drain buntu dengan sistem tekan, juga mengajar musik di rumahnya ini.

Benar juga, sepertinga.

Buktinya, sering saya dapati penyebar brosur 'sedot WC' seenaknya menempelkannya di tiang telepon. Itu menawarkan menyedot kotoran dengan cara kotor. Tiang atau tembok menjadi kurang enak dipandang dengan aneka brosur yang ditempelkan sembarangan. Ada sih sekarang yang lebih sopan, menggantungkan brosur sedot WC dengan design agak cantik di pagar rumah lengkap dengan talinya; 'simpan brosur ini karena suatu saat Anda pasti membutuhkan' begitu pesannya lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Di depan toko ponsel yang baru buka di Rungkut Kidul, setiap kali saya melintas di depannya, selalu ada petugas yang membagikan brosur kepada siapapun pengendara yang lewat. Dan saya selalu mengambilnya. Pertimbangannya, si petugas itu bekerja. Semakin banyak brosur yang berhasil ia bagikan, siapa tahu ia mendapat poin plus dari majikannya sehingga bulan depan ia naik gajinya. Berkali-kali saya mengambil brosur dengan tawaran aneka smartphone terbaru dengan harga menarik, belum juga mampu membuat saya meninggalkan si Nokia jadul yang berlayar hitam-putih ini.

Di lampu merah Panjangjiwo, beberapa kali saya menerima brosur yang sama dari seorang gadis berjilbab dengan isi sama; program diet yang bisa menurunkan berat badan secara ajaib. Walau kalau bercermin saya sering mendapati perut saya makin buncit, saya tak tertarik mengikuti progran yang ditawarkan dalam brosur itu. Namun saya selalu mengambil kertas brosur itu untuk saya bawa pulang dan membuanganya ke tempat sampah. Saya kasihan kalau langsung membuangnya di jalan, setelah membaca sekilas sambil menunggu lampu menyala hijau, saya takut si gadis berjilbab itu tersinggung. (Entah ya, apa petugas pintu tol juga sempat tersinggung ketika karcis tol yang diberikan kepada pengemudi bersama uang kembalian, si pengemudi langsung membuang karcis itu di situ dan menjadikan pintu tol sering terlihat kotor oleh kertas putih yang beterbangan)

Di lampu merah aneka jasa atau barang yang ditawarkan lewat brosur. Mulai kredit motor, pinjaman dana, pengobatan alternatif yang mampu mengatahai 1001 penyakit sampai cara menambah penghasilan yang bisa dikerjakan di rumah dengan pendapatan per hari minimal 500 ribu rupiah. Sebagai janji, semua menggunakan kata yang menggiurkan. Entahlah, apakah si pembuat brosur itu meniru caleg, cabub, cagub atau capres ketika berkampanye, atau justru si caleg, cabub, cagub atau capres itu yang meniru para pembuat brosur itu dalam melontarkan janji. *****


Senin, 09 November 2015

Baju Pahlawan

Sumber ilustrasi foto: Google Images.
NIH lihat, Kang,” Mas Bendo menyodorkan ponselnya yang di layarnya sedang terpampang foto seorang anak berseragam doreng tentara, ”dedeg-piyadeg-nya jan pas tenan. Gagah tur nggantheng seperti aku, bapaknya.”

Weladhalah, itu foto anakmu to, nDo?”

Memangnya kenapa, Kang? Kok ada nada ngenyek pada pertanyaan Sampeyan? Apa gak boleh aku yang kerempeng nyengangik begini punya anak mbois?

Halah, jadi orang itu mbokya jangan sugetan to, nDo, nDo. Jangan gampang tersinggung begitu,” dasar Kang Karib, bisa saja ia membela diri. “Lagian, anakmu itu mau karnaval kemana to kok pakai baju tentara begitu?”

Sampeyan ini piye to, Kang? Besok kan Hari Pahlawan, dan dua hari ini anak-anak sekolah dianjurkan pakai pakaian pahlawan.”

Tetapi, nDo, apa semua pahlawan adalah tentara?” sanggah Kang Karib. “Atau, apakah jasad yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan semua adalah benar-benar pahlawan?”

Wikk, matek Mas Bendo mendapat pertanyaan itu dari Kang Karib. Daripada melakukan serangan balasan dengan jurus ngawur, ia ngowoh saja menunggu lanjutan kalimat Kang Karib. “Ya, namanya juga anak-anak. Bisa jadi mereka memakai seragam doreng di hari pahlawan sekadar ikut-ikutan teman. Nah, tugas guru-guru di sekolah yang harus bisa meluruskan. Bahwa, ya itu tadi; dulu para pejuang yang ikhlas mengangkat senjata untuk berjihad melawan penjajah bisa jadi hanya memakai baju seadanya. Cuma pakai kaus lusuh dan bercelana pendeklah, yang sarunganlah, dan sebangsanya. Kalau dalam film-film perjuangan, yang pakai baju doreng malah si Kompeni Belanda itu...”

Mas Bendo baru mingkem ketika seekor lalat hendak menclok di giginya, “Jadi apa salah anak-anak memakai baju doreng tentara di hari pahlawan ini, Kang?”

Ya enggaklah,” Kang Karib menjawab. “Cuma begini, nDo. Yang lebih utama itu bukan bajunya. Tetapi ruh-nya, semangatnya. Lha kalau cuma baju itu kan bungkusnya saja, ibarat ponsel, cuma casing-nya saja. Nah, selain guru, kita-kita sebagai orang tua yang magak ini (bagaimana gak magak? Lha wong ikut perang gak pernah, lahir procot sudah melihat Indonesia Raya yang begini ini) yang harus bisa menanamkan sifat patriotisme dan heroisme. Agar anak-anak kita mampu menang melawan penjajahan dan agresi model baru. Yang bukan memakai bedil sebagai senjatanya, tetapi isme-isme halus yang sedikit demi sedikit mampu membelokkan arah dan menjauhkan generasi negeri ini dari akar budayanya, dari akar kebangsaannya, dari kearifan lokalnya”


Wik, masak sampai segitunya, Kang?”

Dikandhani kok malah wik,” ujug-ujug Mbak Yu ikut nimbrung.

Kalau anak Sampeyan, tadi ke sekolah pakai baju doreng juga, Mbak Yu,” tanya Mas Bendo.

Aku setuju dengan pendapat Kang Karib yang tadi kukuping; bahwa, tidak semua pahlawan berbaju doreng.”

Lalu, anak Sampeyan pakai baju apa?”

Tadi ia pakai bajuku yang dulu sehari-hari kupakai saat aku bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Bukankah Sampeyan sering mendengar, para pejabat menyebut kaumku itu, kaum TKW itu juga sebagai pahlawah; pahlawan devisa.” *****



Kamis, 05 November 2015

Trotoar

SEORANG sahabat asal Trenggalek yang sudah sekian tahun tidak ke Surabaya menelepon dan bilang. “Pangling aku,” katanya. “jalan A Yani sekarang beranak; satu di timur, satunya lagi di barat.”

Ia berkata sedang di depan Giant Margorejo ketika menelepon itu. Baru tiba sorenya dari tanah leluhurnya di Mlinjon kecamatan Karangan sana, untuk bekerja di daerah Medokan Ayu, Surabaya.

Sebagaimana siapapun yang senang bisa bertemu lagi dengan sahabat lama, saya juga demikian adanya. Lebih senang lagi ketika ia bilang akan dolan ke rumah saya. Baiklah, janji telah dibuat dan ia datang sesuai janjinya itu dengan wajah yang masih sangat saya kenali; tubuh tinggi dengan rambut yang makin tidak kerasan tinggal di kepalanya.

Tekor aku,” katanya begitu duduk di ruang tamu rumah saya yang saking berkonsep minimalisnya sedari awal belum terisi kursi hingga sekarang, “belum-belum tadi sudah harus nyangoni polisi.”

Berceritalah ia tentang kronologinya; meluncur dari timur (arah UPN) langsung belok kanan di pertelon Rungkut. Seperti kutuk marani gepuk karena di sudut depan ada Pos Polisi. Seharusnya ia belok kiri dulu ke arah Rungkut Tengah baru balik kanan grak dan putar lagi ke kiri ke arah Rungkut Industri baru mlipir-mlipir putar balaik di depan Rungkut Jaya.

Nasi sudah menjadi bubur; tak ada surat tilang dan ia malah mempraktikan jurus Iwan Fals (♫♪...tawar menawar harga pas tancap gas ♪♫..). Ada getir dalam tawanya saat si sahabat itu bercerita. Tetapi saya mendapati kenyataan bahwa; sekalipun ia miskin rambut namun kaya tawa. Padahal, ia baru saja merogoh dompet demi melakukan ritual salam tempel kepada oknum polisi sejumlah uang setengah dari upahnya sebagai tukang batu yang ia dapat hari itu.

Orang susah yang gampang tertawa bisa jadi adalah orang yang relatif gampang bahagia. Jangankan punya tabungan berjuta-juta, punya beras dua kilogram untuk ditanak besok pagi saja sudah sedemikian senangnya.

Yang akhir-akhir ini membuat saya kurang senang adalah, jalanan Surabaya yang makin hari makin macet saja. Jalanan memang dulu terasa lebar, tetapi dengan jumlah kendaraan yang terus tumbuh dan serasa kurang dibarengi dengan makin memadainya insfrastruktur, membuat dimana-mana jalan terasa sempit. Dengan – seperti petikan syair lagu Bis Kota-nya Franky Sahilatua-- Surabaya yang panas, saya makin takut akan hilangnya senyum apalagi tawa orang-orang di jalan. Yang ada adalah wajah-wajah cemberut. Bisa dipahami, makin macet kondisi jalanan, makin berpeluang membuat ruwet isi pikiran yang pada akhirnya mengakibatkan matinya benih senyuman. Kalau senyuman sudah mati sebelum berkembang menjadi tawa, olala.. untuk bahagia makin rumit syarat dan ketentuan yang berlaku.

Jalan memang lebarnya masih segitu, tetapi tengoklah, di kota ini jalur pedestrian diperbaiki dan diperlebar. Setelah di bawahnya ditanami box culvert, di atasnya terhampar trotoar berkeramik dan lampu-lampu yang meneranginya di malam hari. Apa yang kurang dari Surabaya coba? Taman dengan aneka bunga di mana-mana, jalur bagi pajalan kaki dipercantik pula.

Ohya, Anda betul.
Yang kurang adalah para pejalan kaki yang memanfaatkan jalur pejalan kaki itu. Kenyataan yang sering didapati adalah, karena jalan untuk kendaraan macet, jadilah jalur pejalan kaki itu dimanfaatkan pula untuk lewat kendaraan.

Tempo hari saya temui sebuah angkot lyn DA (jurusan Darmo Permai-Pasat Atom) berjenis Suzuki Carry lewat trotoar dengan santainya karena jalan HR Muhammad sedang macet parah. Si Carry itu diikuti puluhan puluhan motor sebagai buntutnya dan si angkot dan para pemotor itu baru turun kembali ke jalan yang benar di sebelum pompa bensin seberang apartemen Taman Baverly.

Trotoar memang untuk jalur pejalan kaki, tetapi di Surabaya ini, si pejalan kaki itu kemana-mana selalu naik mobil atau motor dan menganggap motor atau mobil itu adalah kakinya. *****


Rabu, 04 November 2015

Suami yang Sholehah

JAM dinding di atas pintu, di sisi kiri meja kerja Mbak Yu, sudah menunjuk angka 8.13 dan Mas Bendo baru saja masuk dengan tergopoh-gopoh. Ini keterlambatan ke tiga dalam empat hari ini. Padahal, dalam perjalanan ke tempat kerja tadi, ia sudah memacu motornya dengan kecepatan 100 kilometer per dua jam. Lha iya to? Mana benar, coba, memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi di dalam kota begitu. Pertama karena aturan, kedua karena; mana bisa ngebut di tengah kepadatan kendaraan yang makin hari makin menumpuk di jalan raya.

Kejebak macet lagi, nDo?” sambil melintas di dekat Mas Bendo saat hendak menuju mesin fotokopi, Kang Karib bertanya.

Iya, Kang. Mana panas lagi,” Mas Bendo menjawab sambil menyalakan komputer.

Lagian, kalau sudah tahu jalanan makin hari makin macet,” Mbak Yu ikut menyahut, “ lebih dipagikan lagi dong berangkatnya.”

Namanya juga punya balita, Mbak,” elak Mas Bendo, “memandikan, nyuapin sarapan, ngantar ke rumah yang momong. Hitung coba, berapa waktu yang mesti dibutuhkan?”

Itu kan tugas ibunya?”

Nah, ini, begini ini kalau Sampeyan belum punya baby plus harus pula sebagai wanita pekerja. Ngomongnya gampang, ngelakoninya itu yang tak mudah. Dengerin ya, Mbak, istri saya itu tempat kerjanya juauh, dan jam setengah enam sudah harus di pinggir jalan karena mobil penjemputnya lewatnya jam segitu. Telat dikit bisa ditinggal.”

Enak wanita zaman dulu ya kalau begitu,” Mbak Yu kembali menyulut alasan, “cakupan tugasnya lebih sempit; dapur, kasur, sumur”.

Wah, bisa dimarahin Ibu Kartini kalau kamu punya prinsip begitu, Yu,” Kang Karib menimpali.

Marah bagaimana, Kang? Apa aku salah?”

“Nggak
sih, Mbak Yu,” Mas Bendo yang nyahut. “Cuma kurang komplet, kurang konkret; kalau punya prinsip itu ya harus sesuai antara perkataan dan perbuatan.”

Maksud Sampeyan piye, Mas?”

Hambok sana, kalau keukeuh wanita itu cuma ngurusi dapur, kasur dan sumur, ya ndak usah kerja disini. Lak beres to?”

Halah, Mas, Mas. Gitu aja nesu, purik.”

Ya ndak purik, Mbak Yu. Cuma mendudukkan perkara pada takarannya. Bahwa kalau aku sudah kaya raya, sugih bandha sugih donya, ya ndak mungkinlah aku mengijinkan istriku ikut kethayalan mencari nafkah. Bagaimanapun tugas menafkahi keluarga adalah ada di pundak suami. Tetapi karena suatu keadaan istri ikut membantu, apa itu tidak boleh? Juga, kalau karena istri sibuk kerja, pada saat-saat tertentu apa juga dilarang suami yang memasak, cuci piring, nyeterika dan atau momong anak?”

Wih, lincip sekali bicaramu, nDo?” Kang Karib berusaha mencairkan obrolan pagi yang terasa terlalu hangat itu. “Sudahlah, ayo kita sekarang kerja. Jangan khawatir; sebelepotan apapun sesekali suami mengerjakan tugas dan pekerjaan istri, nggak mungkinlah ia berjuluk suami yang sholehah. Ia tetaplah suami sholeh bagi istrinya yang moga-moga sholehah.” *****


Senin, 02 November 2015

Tersumbat Cutton Bud

Alat 'kili-kili'
Foto: ewe
KALAU sudah kecanduan, walau tahu yang dicandui itu adalah hal yang kurang baik, lumayan susah untuk menghilangkannya. Pernah sih saya mendengar ungkapan yang bilang, “Bila sulit menghilangkan kebiasaan buruk, buat dan lakukanlah kebiasaan-kebiasaan  baru yang baik.”

Dalam banyak hal, bicara jauh lebih gampang daripada mempraktikkannya. Dengan kata lain; tak semudah membalik telapak tangan. Ini bukan permainan ontong-ontong bolong, adu merak adu sapi yang berakhir diuyahi-diasemi wolak-walik grembyang.

Oho, jangan terlalu serius. Saya hanya ingin bercerita tentang kebiasaan buruk saya; kili-kili, membersihkan lubang telinga memakai bulu ayam atau cutton bud. Kalau dirunut ke belakang, kurang ingat saya sejak kapan melakukannnya. Yang jelas sudah luama sekali, dan sudah dalam taraf kecanduan. Sehari saja tak melakukannya, serasa gak betah. Kuping terasa gatal. Padahal, mungkin saja, gatal itu muncul karena dorongan keinginan sendiri. Yang, kalaulah tidak dituruti untuk dikili, pun sepertinya tidak apa-apa. Jujur, dalam membersihkan telinga, bukan melulu membuang kotoran semata, tetapi ada kenikmatan sebagai bonusnya. Ada rasa geli-geli sedap yang menggoda.

Padahal, dalam banyak artikel saya dapatkan keterangan, kotoran telinga tak perlu dikili juga akan bisa keluar sendiri. Gerakan rahang dalam berbicara atau mengunyah makanan adalah motode alami untuk mendorong kotoran telinga keluar dari liangnya. Sehingga, tak dianjurkan memasukkan bulu ayam atau cutton bud terlalu dalam. Batas yang dianjurkan adalah, bila bagian ujung cutton bud sudah menyentuh kulit telinga dan terasa nyaman, segera cabut. (Ih, tanggung ya? Lagi enak kok dicabut?)