Jumat, 15 November 2013

Stand Up Comedy ala Kang Edi #2



APA PUN pekerjaan kita, sepanjang itu hal baik, tidak ada alasan untuk gengsi, Bos. Pernah saya mendengar orang berkata; banyak sekali pengangguran yang saling berlomba untuk mendapatkan pekerjaan, sementara, ironisnya, banyak pula orang yang sudah bekerja tetapi di kantor ia suka sekali dengan sengaja 'menganggurkan diri'.

Sorry, Bos. Bukannya saya sok menggurui, tidak. Lagian, tidak ada potongan saya menjadi seperti itu. Toh pekerjaan saya tidak elit-elit amat. Cuma karyawan rendahan, yang setiap bulan, ketika baru memasuki tanggal ke empat, jumlah gaji di dompet tinggal seperempat. Tapi saya enjoy-enjoy saja. Yang penting pekerjaan saya halal. Ceihhh....

Padahal kalau dirunut, bukannya pamer nih, Ayah saya itu dulu pernah menjadi pejabat. Mulai lurah, camat, bupati sampai gubernur pernah ia lakoni. Tetapi saya ya tetep begini saja. Nggak pernah sok. Bukan zamannya lagi pamer siapa orang tua kita, tetapi kita harus bisa menepuk dada; inilah aku. Harus gitu, Bos.

Ohya, Ayah saya itu bukan hanya pernah menjadi gubernur saja, bahkan Beliau juga sempat menjadi Kompeni-Belanda. Ayah saya berkhianat kepada negerinya sendiri? Oh, tidak. Itu hanya semacam tuntutan skenario saja. Bagaimana tidak, wong Ayah saya pemain sinetron....

Ngomong-ngomong tentang sinetron, kalau diperhatikan, para artis sinetron yang sering muncul di layar televisi itu, yang cantik-cantik itu, bukan hanya karena cantiknya, tetapi lebih karena beruntung saja. Kalau cuma modal cantik, banyak cewek cantik (yang bahkan lebih cantik dari para pemain sinetron) yang bekerja sebagai pelayan di mall-mall, misalnya. Kulitnya putih mulus, tetapi herannya, suka pakai stocking yang aneh-aneh.

Bayangkan coba; betis sudah diperputih pakai lotion dan lulur segala, eh, malah ditutup pakai stocking warna hitam. Heran. Kalau hanya ditutup pakai warna gelap begitu, ngapain susah-susah merawat kaki supaya mulus dengan biaya mahal? Ha?

Suatu kali saya ajak Nenek saya belanja ke mall. Namanya orang kampung, masuk mall bawaannya heran melulu. Lihat ini heran, lihat itu heran. Yang juga tidak kalah mengherankan Nenek, adalah ketika saya ajak ia menemui pacar saya yang bekerja di mall itu dan kebetulan sedang mengenakan stocking warna hitam.
Nenek menarik saya untuk mendekat dan beliau berbisik; “Cewekmu itu lho, kulitnya putih kok kakinya hitam,” kata nenek ke telinga saya.

Namanya juga Nenek, bicara berbisik toh kedengaran pula oleh kuping pacar saya. Dan mendengar itu pacar saya malah tertawa, “Ini stocking , Nek...” katanya. “Eh, ngomong-ngomong, usia Nenek berapa kok pipinya sudah pada keriput begitu?” tanya pacar saya dengan agak kurang ajar.

Tentu saja saya khawatir Nenek akan tersinggung dengan pertanyaan itu. Tetapi syukurlah Nenek malah tersenyum dan dengan PD menjawab, “Ini bukan kulit, Nak. Ini stocking...” *****


Selasa, 12 November 2013

Kacamata Politik



SUNGGUH saya sadari, seiring bertambah (atau berkurang ?) umur, mata saya ini ikutan kabur. Huruf-huruf dalam halaman koran atau buku makin kecil dan suram saja rasanya bagi penglihatan saya. Kalau dulu masih mampu memasukkan benang dalam lubang jarum sebelum menjahit ketiak baju yang robek, kini pekerjaan sepele itu tak mampu lagi saya lakukan. Saya mesti meminta anak sulung saya untuk melakukannya, sebagaimana saya memintanya membacakan aturan pakai pada botol sirup obat batuk untuk adiknya.

Mengatasi menurunnya kemampuan penglihatan itu, lazimnya tentu saya harus pakai kacamata. Tetapi entah kenapa, saya masih enggan membeli kacamata baca yang harganya sebenarnya tak seberapa. Tentang kenapa saya semuda ini (weiihh, lebih empat puluh tahun masih merasa muda?!....), kalau dirunut ke belakang tentu ada penyebabnya. Yakni, sejak kecil saya suka sekali membaca. Kesukaan membaca itu kadang tak pandang waktu. Bisa siang, sore atau malam. Untuk siang tentu tak ada masalah, karena terang. Sementara ketika malam, dalam membaca itu seringkali saya hanya ditemani lampu minyak. Iya sih, bapak punya lampu petromaks (ketika itu kami menyebutnya strongking, walau mereknya Tingwon dan bukan Storm King), tetapi lampu itu hanya dinyalakan saat-saat khusus saja. Misalnya kalau pas ada hajatan selamatan, atau, tentu saja, ketika hari raya tiba. Aliran listrik? Oh, tiang-tiangnya saja kala itu belum ada!

Sabtu, 09 November 2013

Baju Pahlawan



PADA pagar besi pembatas jalan di Wonokromo, Surabaya, saya dapati berjajar lumayan rapat sang merah putih melambai-lambai ditiup angin. Kehadirannya, sungguh menjadi penyejuk di antara kibaran bendera lain milik partai-partai politik yang bulan-bulan belakangan ini mulai ramai menghiasi aneka sudut kota. Bukan hanya bendera, terpampang juga bermacam baliho bergambar tokoh-tokoh yang sedang ‘menjajakan diri’ agar dipilih pada Pemilu legislatif nanti. ‘Jujur, bersih dan berani’, ‘Muda, Ulet dan Pro Rakyat’, ‘Bekerja untuk Sejahtera’ dlsb. Kata-kata itu tertera sebagai pemanis buatan di bawah foto yang dibikin semenjual mungkin. Untuk slogan terakhir, sepertinya patut diperjelas: untuk kesejahteraan pribadi atau kesejahteraan rakyat?

Kembali ke jajaran bendera merah putih yang menghiasi jalanan;

Jumat, 08 November 2013

Panggilan Tu(h)an

DENGAN nyaris tak seorang pun yang tidak memiliki ponsel, lazim ditemui di dekat pintu atau di bagian tiang masjid ditempel himbauan agar orang mematikan perangkat itu bila masuk ke masjid. Tidak cukup sampai disitu, sebelum sholat jamaah dimulai, pihak takmir bahkan perlu mengulang anjuran itu lewat pengeras suara.

Sekali pun begitu, beberapa kali saya dapati dalam sholat Jumat, suara ponsel maraung di saat sholat sedang berlangsung. Dan dering itu makin terdengar nyaring dalam suasana yang hening. Sebagai kambing hitam, tentu bisa saja dialamatkan kepada penelepon yang tak tahu diri menelepon disaat shalat Jumat. Tetapi, entah lupa atau apa (atau karena datang telat disaat iqomat sudah lewat), sehingga tak mendengar himbauan takmir, seseorang itu tak mematikan ponselnya. Efek dari itu, tentu saja, bukan hanya si empunya ponsel yang bisa jadi kehilangan konsntrasi, jamaah semasjid pun ikutan kurang khusyu'.

Itu yang sengaja. Lain lagi ceritanya bila disengaja. Memangnya ada?

Selasa, 05 November 2013

Arisan Hompimpah



PERNAH saya membaca sebuah tulisan yang mengangkat tentang rujakan dan arisan sebagai dua hal yang hanya ada di Indonesia. Penulis perempuan itu (sayang sekali saya lupa namanya), mengisahkan teman-teman bulenya di negeri seberang begitu heran ketika diterangkan apa itu rujakan dan arisan.

Tentang rujakan, penjelasan akan lebih sempurna manakala disertai contoh sebagai bukti nyata. Dan nyatalah adanya ketika si rujak itu jadi dan para bule itu mencicipi. Wajah yang sudah merah makin merah saat lidah mereka tersentuh pedasnya rujak. Tak biasa makan pedas, mencocol irisan mangga ke sambal membuat liur mengucur deras.

Sekalipun tak segila rujak, tentang arisan pun sulit diterima akal mereka. Untuk apa, pikir mereka, sekadar mengumpulkan uang dari sejumlah orang dalam satu kumpulan, lalu ketika semua sudah terkumpul, sebuah botol yang tutupnya dilubangi dan di dalamnya berisi lintingan kertas berisi nama para anggota, dikopyok untuk menentuka siapa yang dapat arisan.

Bagi para bule, arisan itu adalah sebuah hal yang kurang praktis. Kenapa uang itu harus dikumpulkan di satu tempat? Kok tidak langsung ditransfer saja ke rekening si pemenang? Kenapa harus dikopyok untuk menentukan pemenang?

Penjelasannya begini;

Kamis, 31 Oktober 2013

A m p l o p



MALAM saat membuat tulisan ini, saya baru pulang dari menghadiri sebuah undangan. Bulan Dzulhijjah begini ini, undangan yang datang silih berganti. Kalau bukan walimatul khitan, ya walimatul arusy. Benar sih, dalam acara walimahan itu, kami para undangan hanya sebagai pendengar saja. Begitu datang, ada terima tamu yang setelah salaman akan memberi sekotak kue dan segelas air mineral. Itu adalah bekal dalam mengikuti rangkaian acara yang durasinya bisa agak lama.

Dalam walimahan, sambil menunggu acara inti –biasanya mauidhoh khasanah--, ada grup banjari yang menyenandungkan puji-pujian untuk Baginda Nabi. Setelah acara inti, ditutup doa. Sudah? Belum. Sekalipun doa disebutkan oleh pembawa acara sebagai acara penutup, tetapi bukan berarti sudah tidak ada lagi acara yang lain. Masih ada. Dan ini lebih inti daripada yang inti. Yakni; acara makan. Bahkan selesai makan pun masih ada lanjutannya; pembagian berkat (biasanya berisi nasi lengkap dengan lauknya plus kue dan sebutir buah).

Begitulah, selain hanya meluangkan waktu, tak ada pengeluaran sama sekali dalam menghadiri acara walimahan. Tetapi, sehari setelah walimahan (tetap di tuan rumah yang sama), lain lagi ceritanya. Datang bukan sekadar datang. Iya sih, dalam undangan disebutkan memohon kehadiran untuk mohon doa restu. Namun dalam praktiknya tidak begitu. Harus bawa amplop yang di dalamnya diisi uang sekian puluh ribu rupiah untuk disalam-tempelkan kepada shohibul hajjat.

Dengan undangan yang bertubi-tubi,

Rabu, 30 Oktober 2013

Ketika Buruh Menuntut



“WAH, musim hujan akan segera tiba ini, Kang,” demi melihat langit tak secerah kemarin, dan matahari tak seterik kemarin, Mas Bendo berkata.

“Hampir bareng ya datangnya dengan musim demo para buruh,” setelah menyeruput kopi, Kang Karib melanjutkan membaca koran terbitan kemarin.

“Iya, ya, Kang,” mulut Mas Bendo berdwi fungsi; sambil mengunyah pisang goreng sekaligus sambil mengamini sahutan Kang Karib tadi. “Tetapi, aku kira buruh menuntut gaji naik demi meningkatkan taraf hidupnya itu hal yang wajar, Kang. Karena suksesnya pengusaha, tak terlepas dari cucuran keringat para buruhnya.”

“Betul katamu, nDo. Namun akan menjadi kurang wajar manakala buruh menuntutnya keterlaluan.”

“Keterlaluan piye to, Kang?” dari nada bicaranya, sepertinya Mas Bendo ini ada di pihak yang pro buruh.

“Lha iya, menuntut upah naik sekian puluh persen itu bagaimana nalarnya?”

“Lho, nalarnya jelas, Kang,” makin semangat Mas Bendo berargumen. “Jangan sampai buruh hanya dijadikan sapi perah, dijadikan tumbal demi mengeruk keuntungan setinggi gunung. Tetapi nasib buruh sendiri tetap sengsara, tetap nelangsa...”

“Pada dasarnya menuntut itu hal yang lumrah, nDo. Tetapi tentu akan lebih elok kalau dilakukan dengan santun, dengan tata krama.”

“Kalau si pengusaha tetap ndablek dan tutup kuping serta tutup hati, mogok kerja adalah pilihan yang rasional, Kang.”

“Tapi kalau dengan mogok kerja itu malah merugikan perusahaan piye, nDo?”

“Ya memang itu tujuannya,” mantap Mas Bendo menjawab. “Pengusaha biar tahu rasa. Bahwa tanpa buruh yang bekerja mereka bakalan rugi.”

“Dan tanpa adanya pengusaha, makin tak tentu pula nasib si buruh,” timpal Kang Karib.

Walau masih kurang sependapat dengan Kang Karib, Mas Bendo seakan kehabisan amunisi mendengar kalimat Kang Karib barusan.

“Pengusaha harus menyadari bagaimana susahnya kehidupan buruh,” kata Kang Karib kemudian.

“Nah, setuju itu aku, Kang,” semangat Mas Bendo tersulut lagi.

“Tetapi,” lanjut Kang Karib, “sesekali buruh juga harus menyadari bagaimana susahnya pengusaha. Bagaimana mereka harus berusaha bertahan untuk survive di tengah iklim ekonomi global dan di antara serbuan para kompetitor. Lagian, kalau gaji buruh dinaikkan, apa menjamin kinerja mereka bakalan naik? Iya sih, tentu mereka akan semakin giat dalam bekerja. Tetapi itu bertahan dalam berapa lama? Paling-paling dua-tiga bulan berikutnya sudah ngglembosi, sudah asal-asalan lagi. Dan tabiat begitu itu di mana-mana sudah umum, nDo. Lalu, tahun berikutnya mereka-mereka ini menuntut kenaikan gaji lagi. Mengancam mogok kerja lagi. Kadang sikap mentang-mentang itu memang tidak melulu dimiliki orang-orang yang sudah mapan, misalnya para pengusaha. Buruh pun sering memakainya; mentang-mentang buruh, mentang-mentang jumlahnya banyak. Menuntut kenaikan upah dua kali lipat. Memangnya ini perusahaan nenek moyangmu.....”

“Wah, mbelgedhes Sampeyan ini, Kang!” sembur Mas Bendo. “aku perhatikan, dari tadi Sampeyan selalu membela pengusaha. Jangan begitu, Kang. Kita harus kompak. Sampeyan jangan menggembosi sebuah perjuangan...”

Mendengar kalimat Mas Bendo barusan Kang Karib malah cekikikan.

Sampeyan kok malah tertawa ini bagaimana, to?”

“Lha kamu itu, lucu...”

“Lucu?! Apanya yang lucu?!”

“Lha bagaimana tidak lucu, wong kita ini sama-sama pengangguran,” jawab Kang Karib. “Biarpun upah buruh naik setinggi langit, ya kita tetap saja nganggur...” *****


Senin, 28 Oktober 2013

Si Randy dan Pak Randy



SEPERTINYA, adalah suatu yang kurang mengenakkan bila dalam satu kelas, ada guru dan murid yang namanya sama. Lebih menyiksa lagi, kalau si murid itu termasuk dalam kategori usil.

Saat SMP, saya punya teman sekelas yang namanya sama dengan guru pelajaran ekonomi kami. Sebut saja namanya Randy. Si Randy murid, sudah usil, suka kentut pula. Dan siapa pun tahu, kentut yang sunyi malah aromanya ruarr  biasa.

Saat seisi kelas konsentrasi penuh mendengar penjelasan Pak Randy tentang diskonto, debet, kredit dan sebangsanya, dari deretan bangku tengah sisi belakang tiba-tiba ada kegaduhan. Di tengah-tengah kegaduhan itulah si Randy duduk. Dengan sekeliling pada menutup hidung, jelaslah sudah, tudingan sumber bencana adalah gas buang si Randy.

“Ada apa di belakang ribut-ribut?” Pak Randy lantang bertanya.

Teman-teman di sekeliling Randy yang sebagian besar perempuan, langsung menunjuk si biang kerok. “Pak, Randy kentut,” seperti koor suara itu kompaknya.

Sebuah penjelasan yang sangat jelas. Toh, si Randy juga tidak membantah. Tetapi penjelasan itu disertai tawa yang tertahan manakala cara pengucapannya lamat-lamat terdengar seperti menuduh Pak Randy yang kentut.

“Apa?!” seakan kurang jelas, Pak Randy ingin mendengar ulang jawaban kompak tadi.

Sambil cekikikan kami lebih kompak menjawab, “Pak Randy kentuutt.....”

Sumber keributan di kelas bagi Pak Randy harus diberi hukuman, dan hukuman yang khas dari beliau adalah dicubit. Tetapi cubitan itu bukan sembarang cubitan. Pak Randy suka mencubit (maaf) puting kami para siswa lelaki dan menariknya ke atas sampai kami ikutan berdiri sambil meringis kesakitan.

Setelah menghukum Randy, dan memperingatkan agar ia tidak bikin gaduh lagi, Pak Randy melanjutkan pelajaran. Belum lama berselang, dari arah semula ada lagi kegaduhan. Lagi-lagi, sekeliling Randy tutup hidung. Ah, kurang ajar betul anak itu! Begitulah akibatnya kalau mau berangkat sekolah makan kedelai muda rebus.

Tetapi dengan sikap ksatria si Randy langsung berdiri dan mengangkat dua tangan, “Sumpah. Bukan saya yang kentut! Hiruplah dengan seksama, aroma ini bukan berasal dari kedelai rebus.”

Kegaduhan mengecil menjadi kasak-kusuk. Si Randy memerhatikan teman-teman di sekeliling duduknya. Dan mendapati si bunga kelas, Grace (juga bukan nama sebenarnya) wajahnya ranum memerah menahan malu. Kepadanyalah kecurigaan si Randy tertuju.

“Mengakulah, Grace. Tak perlu malu, karena buang angin yang tak dikehendaki adalah hal yang juga manusiawi...,” sok bijak Randy berkata.

Dengan Grace yang tak membantah, sumber kegaduhan kedua siang itu jelaslah sudah. Tetapi bukan Randy namanya kalau tak bisa menambah sebuah kegaduhan menjadi makin meriah.

Demi menyadari hukuman ala Pak Randy adalah cubitan di titik yang itu-itu juga, “Harus adil dong, pak. Saya tadi dicubit, Grace harus dicubit juga dong, Pak,” ucapan Randy itu langsung direspon meriah oleh teman sekelas.

“Cubit, cubit, cubit....”

Di antara kekompakan tuntutan kami itu, Pak Randy mengemasi buku-bukunya, memasukkan ke dalam tas, dan, “Pelajaran siang ini cukup sampai disini. Selamat siang,” guru ekonomi yang malang itu menutup pelajaran dan keluar meninggalkan kelas disusul kegembiraan kami yang semuanya terbilang keterlaluan. *****


Sedekah Sampah



KAMI sekeluarga mungkin termasuk dalam kategori keluarga penyayang dalam tanda petik. Apa-apa yang kami miliki begitu kami sayangi. Walau sudah tidak kami gunakan, seringkali sesuatu itu  teramat sayang untuk dibuang. Saking banyaknya macam barang yang kami simpan, sampai-sampai tanpa kami sadari seakan semua sudut rumah kami menjadi gudang.

Lemari menjadi penuh sesak oleh baju-baju lama yang sekarang sudah tidak muat lagi di badan. Berkardus-kardus bekas kemasan mie instan yang di dalamnya berjejalan mainan-mainan si kecil yang tak pernah lagi dipakai bermain. Sandal-sepatu si kecil yang sudah kekecilan. Di dekat dapur, teronggok bertumpuk-tumpuk wadah plastik aneka bentuk hasil dari seringnya saya mendapat kondangan tahlilan. Termasuk aneka macam piring dan mangkok hadiah setiap istri saya membeli ditergen.

Pada saat tertentu,

Senin, 21 Oktober 2013

S e p a t u



SEKALIPUN, tentu saja, saya pernah mendengar perihal sepatu kaca milik Cinderella, sayangnya, pengetahuan saya tentangnya tak seberapa lengkap. Cenderung buta, malah. Tak tahu saya, misalnya, apa keistimewaan dari sepatu itu, apa konflik yang terjadi atasnya dsb, dst. Itu  tentang dongeng. Dan apa pun bisa terjadi di alam dongeng, sehingga saya tak perlu repot-repot menariknya ke logika nyata. Bahwa, betapa dengan mengenakan sepatu kaca, si pemakai bakalan  mudah sekali celaka. Kesandung batu saja, pecahan beling sepatu itu bakal mengancam telapak kaki.

Lain sepatu kaca Cinderella, lain pula dengan Sepatu Dahlan. Karena suatu sebab, ketika berkunjung ke sebuah toko buku, dan buku itu ditata sedemikian rupa lazimnya buku unggulan yang baru terbit, ia langsung saya usung ke kasir bersama beberapa buku lainnya untuk saya beli. Apesnya, ternyata buku tulisan Krishna Pabichara itu, dengan membaca beberapa bab awal, gairah saya meneruskan membaca sirna sebelum dapat separonya. Dan ia segera menghuni rak buku bersama koleksi saya yang lain. (Wah, rugi dong sudah mahal-mahal membeli tak khatam membacanya? Ah, tidak juga. Lagian  tak sekali itu saja saya kehilangan syahwat membaca sebelum menamatkannya. Saya merasa lebih tidak begitu rugi manakala, kemudian, buku itu dilahap anak saya sampai halaman terakhir).

Dengan tahu betapa untuk memiliki sepatu saja adalah sebuah mimpi yang tak mudah terwujud bagi si Dahlan, cukuplah bagi saya sebagai modal untuk menengok masa lalu yang juga kurang lebih demikian. Contoh terbaru dari kisah sepatu ini adalah dari beberapa penggawa Timnas U-19 yang mengalami main bola memakai sepatu bekas seharga tigapuluh ribu rupiah. Kalau saja rasa malu karena hanya menggunakan sepatu bekas begitu tinggi sehingga membuat minder dan menyerah  serta meyalahkan keadaan, tentu saja kita tak akan mengenal Evan Dimas, Fathurrohman dkk sebagai pesepak bola andalan masa depan.

Ketika SD, saat pertama kali dibelikan sepatu, pergi ke sekolah saya tetap saja bersandal jepit, atau tak jarang malah bertelanjang kaki. Saat itu saya sudah kelas lima. Kalaulah berangkat dari rumah pakai sepatu, begitu jam istirahat tiba, istirahat pula kaki saya dari terbungkus sepatu. Dengan tidak memakai sepatu, main betengan, kejar-kejaran dan lainnya dalam berlari terasa lebih gesit. Itu alasan pertama. Alasan kedua, dan ini lebih tinggi kadarnya, adalah betapa saya begitu menyayangi sepatu berbahan seperti beludru warna hitam itu. Saking sayangnya, saya tak ingin ia kotor, apalagi sampai rusak dipakai bermain. Alasan ketiga, dengan sebagian besar teman sekolah paling banter bersandal jepit, menjadikan kaum bersepatu sebagai minoritas. Kalaulah kami kemudian ikutan melepas sepatu walau punya, kami anggap itu semata sebagai tindakan solidaritas.

Kalau anak saya atau anak Sampeyan sekarang ini minta sepatu dengan ukuran disesuaikan dengan ukuran kaki, kalau setahun kemudian ukuran kaki membesar, walaupun sepatu itu  (karena mahal dan mutunya bagus) belum rusak, niscaya si anak akan minta sepatu baru lagi. Dalam hal ini, saya akui, orang tua saya telah berpikir matang sebelum membelikan sepatu. Sehingga walau pun sepatu itu sangat jarang sekali saya pakai, orang tua saya tak terlalu khawatir tiba-tiba sepatu itu tak muat di kaki saya yang secara ukuran akan bertambah besar. Apa pasal?

Ya, karena dalam membelikan sepatu, orang tua saya memilih yang ukurannya melebihi ukuran kaki saya kala itu. Sehingga dalam memakainya, bagian ujung depan kaki yang masih longgar, Ibu memasukkan gombal (kain bekas) sebagai sumpal. Tidak hanya sepatu, dalam membelikan baju pun saya sering diperlakukan begitu. Kalau saya kenakan, ia menjadi baju kebesaran dalam arti yang sesungguhnya.

Kenapa orang tua saya berlaku demikian, penjelasannya adalah; keterbatasan bisa melahirkan 'visi/wawasan jauh ke depan', sekalipun kalau diterapkan pada anak-anak saya sekarang, sekadar membayangkannya saja sulitnya sudah sedemikian.

Atau isenglah sedikit; belikan anak kita yang sudah  kelas lima SD sepatu yang kebesaran, sumpal bagian depan dengan kain bekas, mintalah ia kenakan untuk ke sekolah, lalu perhatikan apa yang terjadi. *****