Selasa, 28 Februari 2012

Definisi Menulis

MENULIS adalah menulis, menulis adalah menulis, menulis adalah menulis dan seterusnya.

Getrude Stein, penulis Amerika (1874-1946)

Senin, 27 Februari 2012

Nyai Roro Kidul Sudah Hajjah?

WALAU belum tentu setiap khotib sholat Jumat memiliki ilmu hipnotis, seringkali saya tertidur ditengah-tengahnya. Dan tidur itu, jujur saja, terlaksana antara tertidur atau memang sudah saya nawaitu terlebih dulu. Tetapi Jumat kemarin (24 Pebruari), saya benar-benar tidak tertidur atau menidurkan diri. Karena, belum sempat saya disentuh rasa kantuk, khutbah telah selesai. Benar-benar khutbah kategori Patas. Dan, jam duabelas lebih sepuluh menit, saya sudah tiba lagi di tempat kerja yang berjarak sekitar dua ratus meter dari masjid.

Jam kerja masih lama. Intinya, masih ada waktu lebih dari tiga puluh lima menit untuk istirahat. Dan saya menuju driver lounge untuk melampiaskan hasrat tidur. Kipas angin besar yang berputar di langit-langit menghembuskan kesejukan yang sepertinya akan bisa mempercepat proses tidur siang saya. Tetapi Wiratno, teman kerja saya yang juga ikut istirahat ditempat itu, malah dengan lancang memindah saluran televisi dari HBO ke TVRI. Ia yang memang aktif dikegiatan masjid dikampungnya, rupanya hapal betul kalau hari Jumat di jam segitu sedang ada siaran live dari masjid Istiqlal.

Benar saja; dan acara khutnah Jumat sedang baru saja dimulai. Mata saya yang terpejam (mungkin ditiup-tiup setan) malas sekali untuk sedikit saja melihat layar televisi. Tetapi rupanya si setan belum berhasil menyumpal lobang telinga saya. Makanya, saya masih saja mendengar isi khutbahnya. Ini dia, di masjid tadi khutbah hanya sejenis Kultum, di driver lounge ini khutbahnya bermenit-menit.

Karena mata saya terpejam, saya tidak tahu nama sang khotib yang tentu saja beberapa menit sekali tertulis dibagian bawah layar televisi. Yang saya ingat adalah, kali itu khotib membahas tentang perkembangan Islam dari zaman ke zaman ditinjau dari segi  local wisdom.

Diantaranya dipaparkan, untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa Sunan Kalijaga memakai media pewayangan. Tentu saja setelah dipermak sedemikian rupa. Karena dalam cerita pewayangan made in India, menurut khotib, Si Pendawa Lima itu ternyata memiliki satu istri bernama Drupadi. Si Dewi ini melakukan praktik poliandri, sesuatu yang tidak Islam sama sekali. Makanya Sunan Kalijaga memodifikasi menjadi si Pendawa Lima itu adalah anak-anak dari Dewi Kunti.

Masih menurut sang khotib, laku penyebaran Islam dengan model begitu, belakangan masih saja terjadi. Salah satunya adalah yang dipakai beberapa 'orang pintar' di beberapa daerah yang masih sangat kental dengan kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Tentang Nyai Roro Kidul, misalnya. Disebutkan sang khotib, ada 'orang pintar' yang dengan berani bilang kepada orang yang sering meminta jasanya bahwa Nyai Roro Kidul itu adalah seorang muslimah. Dan sekarang sudah bergelar hajjah!

Dalam kemampuan supranaturalnya, 'orang pintar' tadi melihat sang penguasa laut selatan itu sekarang sudah tampil tertutup, berbusana muslimah. (Tidak lagi menggunakan busana yang dulu sering kita tonton lewat film-film Suzana atau yang akan diteruskan oleh si Jupe yang sepertinya hobby sekali menonjolkan bagian tubuh yang sebenarnya sudah menonjol itu.) Makanya, kepada setiap pasien-nya, si 'orang pintar' ini menganjurkan agar setiap wanita yang datang meminta tolong kepadanya agar berbusana muslimah.

Saya tentu tidak serta merta menuduh para wanita yang sekarang sedang menjadi sorotan publik karena berbagai kasus hukum, selalu saja mengubah penampilan kesehariannya , paling tidak, dengan berkerudung, adalah para pasien si 'orang pintar' yang dalam setiap lakunya selalu meminta tolong kepada Nyai Roro Kidul tadi. Tetapi kalau memang begitu kecenderungannya, jangan salahkan para penjual kerudung bila dalam doanya sesekali meminta agar lebih banyak lagi wanita yang terkena kasus agar barang dagangannya semakin laku.

Salam.*****

Selasa, 21 Februari 2012

Nasihat Lewat Pantat


isih enak jamanku biyen....

BEGITU sebaris kalimat yang tertera disebuah pantat truk, lengkap dengan gambar wajah yang sangat saya kenal; Pak Harto. Senyum mendiang presiden kita yang tergambar pada tutup belakang sebuah truk itu, saya curigai digambar dengan menjiplak foto pada selembar uang lima puluh ribuan. Senyum yang 'anggun'. Yang, seperti terungkap pada tulisan diatas, masih ada yang merinduinya. Kerinduan akan harga sembako yang terjangkau dan lain-lain.

Tentu saya tidak sedang akan mengajak sampeyan untuk berbicara tentang beliau dari sisi lain yang tentu bisa lebih ramai. Tidak. Saya hanya fokus pada tulisan-tulisan lain yang sering kita temukan dipantat-pantat kendaraan, wabil khusus; pantat truk. Tulisan-tulisan itu tidak sedikit yang agak kotor, walau mungkin diniati hanya sebagai humor. Dan karena saya yakin sampeyan adalah orang-orang yang sopan, yang merasa risih membincangkan hal-hal yang berbau 'ngeres', baiklah, kita batasi tulisan-tulisan itu dari sisi yang santun saja.

“Kutunggu jandamu,” entah ada berapa truk yang memampang tulisan itu dipantatnya. Yakinlah, itu hanya gurauan semata. Atau, paling tidak, memang hanya sebatas itu kreatifitas si penulisnya. Tetapi, bila diperhatikan lebih dalam, kalimat itu sebagai ungkapan yang mempertegas sebuah tulisan lain; “An 3 Dis.” Ya, masuk akal, kan. Bila Anti Gadis, ia malah memilih menunggunya menjadi janda.

“Doa Ibu,” begitu kata mbak Chichi ketika saya minta mengingat kalimat yang tertera dipantat truk dalam status FB saya pagi tadi. “Kok gak ada Doa Ayah, ya?” lanjutnya.

Banyak. Ada banyak sekali kalau kita mau tulis disini. Misalnya Buronan Mertua, Pulang Malu Tak Pulang Rindu, Aku Bukan Bang Thoyib, Cintamu tak Seberat Muatanku, Jaga Jarak, dan lain-lain.

Kemarin sore (20 Pebruari 2012), sepulang saya dari ta'ziyah ke Lamongan, disebuah jalan yang merambat, dipantat sebuah mobil box saya dapati kalimat yang lumayan panjang. Dari bentuk tulisannya saya tahu, itu bukan dicetak secara serius seperti sticker Kalau Pengemudi Kendaraan ini Membahayakan Anda Harap Hubungi Kami. Bukan. Ia hanyalah tulisan tangan memakai spidol besar. Sayang sekali saya tak ingat nopol mobilnya. Tetapi saya masih sangat ingat bunyi kalimatnya. Begini; “Mengecewakan bos adalah bahaya besar. Tetapi mengecewakan konsumen adalah bahaya lebih besar. Karena konsumen adalah bosnya bos...”

Salam.*****

Jumat, 17 Februari 2012

Menang

ANDA harus tahu Anda bisa menang. Anda harus berpikir Anda bisa menang, dan Anda harus merasakan Anda bisa menang.

Sugar Ray Leonard,
Petinju Amerika Serikat.

Kesalahan

ORANG yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apa-apa.

Edward John Phelps (1822-1900)
Diplomat dan Ahli Hukum, Amerika.

Senin, 13 Februari 2012

Belajar Kepada Penyiar


KESUKAAN saya membaca, kalau saya tidak salah ingat, datang berbarengan dengan kesukaan saya mendengarkan radio. Dan, selain radio lokal, ada beberapa radio luar yang rutin saya kuping. Sebutlah misalnya, Radio Australia, BBC, VOA, atau Radio Netherland siaran Indonesia. Telinga saya cukup akrab dengan suara Ebet Kadarusman (ABC Australia), atau Ayun Sundari, Arya Gunawan, Gogo Prayoga dan Helen Lumban Gaol (BBC London), Bari Mochtar (Ranesi- Radio Netherland Siaran Indonesia), atau Suprapto (VOA- Suara Amerika). Saat itu, acara siaran dari stasiun asing masih belum boleh di relay oleh stasiun lokal. Jadinya, mengupingnya pun kadang sampai benar-benar harus menempelkan radio ke kuping. Karena gelombang pendek (SW) sering diterima radio saya dengan suara timbul-tenggelam.

Kalau penyiar lokal yang saya ingat kala itu, tentu saja Meutia Kasim yang saban Minggu nongol di acara WeeklyTop40. Berisi tangga lagu-lagu top yang lagi kondang saat itu, dengan kiblat Amerika Serikat. Dan untuk acara serupa dengan kiblat Eropa, saya dengar yang buatan Radio Netherland; Europe Parade.


Kalau kesukaan membaca kemudian memantik keinginan saya untuk turut bisa membuat bacaan, karenanya lalu saya mulai belajar menulis. Sejak itu dan sampai sekarang. Bukankah belajar memang tiada batas waktu? Juga, ketika suka mendengarkan radio, sedikit demi sedikit saya juga membuat impian tentang betapa enaknya menjadi seorang penyiar. Maka, ketika orang lain ketika mandi suka sambil menyanyi, karena saya tidak bisa menyanyi, dalam sambil mandi itu lebih sering saya seolah sedang siaran radio!


Tempo hari saya dapati selebaran tentang pelatihan menjadi penyiar ditempel di papan-papan pengumuman dikampung, saya langsung daftar ikut. Toh pelatihan itu dilaksanakan hari Sabtu (11 Pebruari kemarin) dan kebetulan saya sedang libur kerja. Kebetulannya lagi, lokasi pelatihan itu hanya kurang dari seratus meter dari rumah saya. Tepatnya, disalah satu ruang di gedung Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan - Universitas Surabaya (Pusdakota Ubaya).

Walau sudah termasuk peserta paling tua, setidaknya saya merasa sebagai yang paling ganteng. Saya seakan adalah si Jaka Tarup diantara para bidadari. Tentu, karena peserta lainnya plus seorang instrukturnya semua  perempuan. Sebagai lelaki tua yang sendiri di sarang perempuan begitu, saya hilangkan semua keminderan. Saya datang kesini toh untuk belajar. Agar besok-besok, ketika saya siaran dikamar mandi, paling tidak saya sudah dalam teknik yang tidak keliru.


Disitu, ketika saya mengikuti pelatihan itu, saya baru tahu, selain harus bisa olah nafas sedemikian rupa, seorang penyiar sebelum siaran harus melakukan senam dulu. Tentu senam khusus; yang bisa melancarkan saat siaran. Agar bicara tidak belepotan dan tidak sampai kehabisan kata. Nama salah satu gerakan senam ini namanya sangar; Lion Face! Gerakannya begini; tangan posisi seperti hendak menerkam, mata disipitkan sesipit-sipitnya, gigi dikatupkan se-nggeget-nggeget-nya. Ini dilakukan sekitar dalam hitungan sepuluh detik. Selanjutnya, dengan tangan masih dengan posisi sama, tetapi kali ini mulut dimonyongkan semonyong-monyongnya, mata dimelototkan semelotot-melototnya, lidah dijulurkan sepanjang-panjangnya. Ini juga sepuluh detik. Gerakan lainnya adalah  menjulurkan lidah dan diputar-putar menjilati bibir sendiri dalam putaran kekiri tujuh hitungan dan kekanan juga tujuh hitungan. Kemudian mengurut rahang sendiri, dilanjut mengurut tenggorokan.

Heran, dengan hanya melakukan gerakan 'aneh' begitu pun keringat saya sudah ndrodos keluar. Tetapi terus terang saya kurang konsentrasi. Takut anak saya tiba-tiba nongol dan melihat bapaknya berlagak seperti singa yang melotot hendak menerkam mangsa, wah bisa girap-girap anak saya.


Jam dua belas siang, kami rehat sejenak. Semua berkumpul di pendopo untuk makan siang. Peserta latihan penyiar bergabung dengan peserta pelatihan lainnya yang kali itu sedang membahas topik urban farming.

Setelah makan siang dan sholat dhuhur, pelatihan kembali dilanjutkan. Kali ini praktek lapangan. Yang pertanian ke lahan pertanian yang juga ada dilokasi itu, yang latihan penyiar langsung praktek siaran di studio yang juga tersedia. Disitu ada bedanya. Yang petani, karena memang pada dasarnya adalah sudah bertani, dan disini hanya di ubah mindset-nya agar lebih menggunakan pupuk organik, tentu adalah gampang. Bagi penyiar, tunggu dulu. Bicara sendiri didepan seperangkat alat siaran (ada mixer, pakai headphone, menghadap komputer dan didepan bibir ada mikrophon dan tidak bicara secara face to face dengan lawan bicara), saya yang sudah diajari membuat radio script sebelum siaran, semua langsung buyar. Bicara dengan cara begitu ternyata tidak gampang. Menjadi penyiar ternyata adalah pekerjaan besar!

Setelah pelatihan itu, saya jadi sadar. Bicara untuk enak didengar orang lain harus ada persiapan. Tidak asal keluar suara, tidak asal berkoar. Harus bisa meredam emosi pribadi. Harus jelas intonasinya, jelas artikulasinya, juga dengan aksentuasi yang sedemikian rupa. Bicara begitu, yang enak didengar itu, yang menyenangkan orang begitu, tentu tidak melulu bisa diterapkan untuk siaran radio semata. Dalam kehidupan sehari-hari pun tentu juga perlu.

Salam.****


Cinta dan Revolusi

TINGKAT cinta tertinggi adalah revolusi.


(Che Guevara)

Kamis, 09 Februari 2012

Biasa Menjadi Orang Biasa


KALAU saja ukuran kuno tidaknya seseorang dinilai dari pernah-tidaknya ia merayakan ulang tahun, saya termasuk yang kuno, tentu saja. Lebih-lebih, ketika saya tahu semua data yang menyangkut tanggal lahir saya itu palsu dan hasil rekayasa, makin tak pedulilah saya akan ulang tahun diri sendiri.

Tetapi ketika tempo hari saya mengurus surat mutasi penduduk dari desa ke Surabaya ini harus menyertakan foto kopi surat nikah yang dilegalisir KUA, mau tak mau saya sedikit membaca isinya. Disitu tertera; saya menikah tanggal 9 Pebruari 1999. Dan, hari ini tanggal 9 Pebruari 2012. Artinya, hari ini ulang tahun pernikahan saya yang ke 13!

Tentu saya bersyukur. Ternyata sudah segitu lama saya berumah tangga. Lebih bersyukur lagi, itu saya jalani sebagai orang biasa. Maksudnya, kalau saja saya seorang selebritas, tentulah saya akan repot sekali menerima pertanyaan kerumunan wartawan infotainment yang ingin tahu resep menjaga rumah tangga utuh sampai belasan tahun begini. Sekali lagi, saya bersyukur menjadi orang biasa.

Tentang apakah istri saya ingat hari ini ulang tahun pernikahan kami yang ke 13, saya yakin ia juga tak mengingatnya. Buktinya, tadi pagi ia malah lebih ingat kebutuhan sehari-hari; persediaan beras di dapur yang tinggal tiga kilogram, kompor gas pemberian pemerintah yang sudah keropos-karatan dan waktunya minta ganti, tagihan rekening air yang sudah waktunya dibayar, token (pulsa) listrik prabayar yang tinggal beberapa kWh, susu si kecil, uang saku si sulung  dan sebagainya, dan sebagainya.

Sebagai orang biasa, hal-hal biasa macam itu biasanya bisa kami atasi dengan biasa-biasa saja. Menjalani hidup dengan biasa begitu, ternyata sudah kami lakukan sekian lama; 13 tahun! Sekali lagi saya bersyukur dengan cara biasa. Tanpa pesta, tanpa meniup lilin, sekaligus tanpa nelangsa.

Salam.

Selasa, 07 Februari 2012

Hasrat

HASRAT semata tanpa tindakan akan membiakkan penyakit.

William Blake (1757-1827)
-penyair Inggris.

Senin, 06 Februari 2012

Menanam Rumput


KALAU saya hitung-hitung, hari ini saya sudah lebih limabelas tahun tinggal di Surabaya. Waktu selama itu, terus terang saya belum tertarik untuk menjadi Bonek, suporter kesebelasan kota ini yang punya nama ‘hebat’ itu. Walau begitu, bukan berarti saya tidak pernah mBonek. Tigabelas tahun yang lalu, ketika menikah saya pun telah berlaku mBonek. Nekat saja. Tentu saya tak hendak mengajak sampeyan  untuk ikut nekat, kawin lagi, misalnya. Tidak. Tetapi lihatlah, ketika sebuah kehendak yang hanya berhenti sampai kepada keinginan tanpa disertai upaya (yang kadang butuh sentuhan kenekatan), ia hanyalah bukan apa-apa.  Urusan menikah pun, kalau terlalu banyak perhitungan, niscaya hanya akan mengakibatkan 'telaten'; telat jadi manten.

Ketika 10 Nopember kemarin saya merenovasi rumah pun tetap dalam rangka nekat juga. Dengan dana sekitar seharga kursi ruang Banggar DPR yang setelah ribut-ribut lalu dikembalikan itu, saya nawaitu  memoles rumah; nambah satu kamar untuk Edwin, plus membentuk wajah. Karena, lebih dari tiga tahun, rumah saya hanyalah berbentuk setengah badan. Belum nampak wajahnya. Tetapi dengan dana segitu, bagaimana saya mengolahnya?

Saya tentu realistis. Modal minimalis , saya pikir, tentu cocok untuk model yang juga minimalis. Dan, betul kecurigaan saya; saya betul-betul keliru! Rumah minimalis ternyata butuh modal maksimalis. Bukti konkret dari kenyataan itu adalah, sekali lagi, renovasi rumah saya berhenti ditengah jalan. Tak apalah. Karena dengan keadaan itu pun, saya syukuri dengan tiada henti. Tentu saya tahu, ada orang kaya yang mempunyai banyak rumah tetapi malah tidak sempat meninggalinya. Sebaliknya, juga tidak sedikit orang yang bertahun-tahun meninggali sebuah rumah, tetapi belum sempat memilikinya. Saya, dalam hal ini, tentu sudah sangat beruntung.

Rumah minimalis yang saya bangun dengan modal minimalis berdiri sudah. Belum dicat, atau belum diberi finishing touch lainnya, tak apalah. Tetapi saya ingin mengindahkannya. Sebentuk taman kecil didepan teras hendak saya tanami rumput. Untuk keperluan itu, saya bertanya kepada seorang teman yang ekspert dibidang pertamanan. Dan dia malah menertawai saya. Begini katanya, “Sampeyan sudah berlogika orang kaya rupanya. Kalau orang belum kaya, sedikit taman didepan rumah, selalu ditanami aneka pohon yang menghasilkan; rambutan, jambu, mangga atau ditanami aneka sayuran. Lha ini sampeyan malah akan menanami rumput. Salut, salut. Berarti sampeyan sudah ‘one step a head’...”

Bukannya memberi saya opsi rumput apa yang cocok untuk maksud saya. Teman saya itu malah mengkhotbahi saya tentang antara kaya dan belum kaya. Pada akhir pembicaraan, saya jadi ingat, saya pernah memasangkan lukisan milik orang kaya. Yang harganya,  35 juta! Oho, uang segitu untuk selembar lukisan yang menurut saya hanyalah sekadar corat-coret aneka warna yang bagi saya memumetkan. Tetapi sebuah keindahan, suatu pemuas batin, tentu harganya lebih tak ternominalkan.

Sudahlah, saya tak ingin bertambah mumet memikir kebiasaan orang-arang kaya itu. Menanam rumput pun saya maknai sederhana saja. Walau kalau dipikir-pikir, benar juga kata sahabat saya tadi. Tetapi sudahlah. Sesuatu kalau diterawang lebih dalam, bagi saya, adalah sama saja. Indah dan bagus itu semata perkara kulit, hanya casing. Yang penting dalamnya; intinya.

Meskipun rumah saya ini kalau dilihat masih nampak belum rampung, bila disangkut-pautkan (secara paksa) dalam istilah baiti jannati, paling tidak saya telah punya sebuah sorga. Walau bentuknya masih setengah jadi.*****

Bunyi Pemanggil Pembeli


SEKALIPUN gang di depan rumah saya ini adalah gang buntu, ia tak luput dari rambahan para penjaja makanan. Sekalipun pintu rumah sudah saya tutup, saking hapalnya, saya bisa menebak penjual apa yang lagi lewat, hanya dari suara khasnya. Suara itu, sampeyan tahu, bukan melulu berasal dari mulut. Bahkan sebagian besar adalah bebunyian dari alat bantu tertentu.

Bila yang terdengar adalah suara tuuuttttt seperti bunyi nada sambung telepon, saya tahu yang sedang lewat adalah penjual putu. Memang, penjual putu lebih memercayakan kepada bunyi yang ditimbulkan oleh semacam cerobong kecil yang dibentuk sedemikian rupa dan diletakkan diatas dandang tempat memasak putu, ketimbang teriakan mulut atau alat bunyi lain. Satu lagi, asap putih yang menyertai bunyi itu, turut pula menyebarkan aroma wangi pandan. Hal itu, tentu sudah cukup untuk menggugah lidah bagi yang sedang kepingin menikmati kue putu.

Tetapi, saya kira, bebunyian yang banyak dipakai adalah semacam terompet kecil dengan bulatan karet dibelakang. Yang berbunyi tit-tot, tit-tot bila ditekan. Alat ini, bila tidak melihat penjualnya secara langsung, saya sering keliru menebak. Ia dipakai oleh penjual donat, es potong sampai pentol seratusan. Sepertinya, agar tidak menimbulkan kebingungan dan kerancuan, mereka perlu melakukan perundingan.

Tetapi kerancuan bukan melulu dimiliki si tit-tot, tit-tot itu. Penjual mie pangsit dan nasi goreng pun memakai alat sama; kentongan bambu. Kentongan pula, tetapi yang ini ukurannya kecil dan terbuat dari kayu--, saya dapati pula dipakai mas penjual bakwan Bromo. Ya, saya sebut begitu karena saya dapati memang si bakwan ini dikelola lebih modern. Cat armada gerobak yang sama, seragam penjual yang sama dan tentu saja bunyi dan bentuk kentongan yang sama. Bakwan Bromo ini pernah pula saya dapati di luar kota. Adakah ia juga telah merambah daerah sampeyan?

Yang legendaris, seingat saya, adalah penjual es tung-tung. Es puter (karena cara bikinnya yang diputer-puter) itu, didesa saya disebut juga sebagai es tung-tung. Karena, si penjual selalu menabuh gamelan yang digantung didekat pegangan tangan gerobaknya. Bunyi tung-tung yang ditimbulkan, menjadikan es yang biasanya diwadahi semacam contong saat saya membeli itu, dinobatkan sebagai es tung-tung.

Penjual tentu ada juga yang masih memakai teriakan sebagai penanda kehadirannya. Penjual sate, misalnya. Atau lontong kikil yang masih setia dengan lampu minyaknya. Ohya, jagung rebus dan tahu campur masih dijajakan dengan cara berteriak. Kalau tahu tek, memakai wajan yang dipukul sebagai pemanggil pembeli. Walau, konon dinamakan tahu tek karena bunyi gunting yang dipakai memotong-motong tahu itu awal mulanya.

Yang khas, tentu saja, adalah penjual arumanis. Dari dulu, dari jaman saya masih kanak-kanak, sampai sekarang cara menjajakannya masih tetap sama. Ini lebih kepada sentuhan seni. Tepatnya seni musik. Penjualnya tidak memakai gerobak, tetapi menggunakan kaleng krupuk yang dimodivikasi sedemikian rupa. Pelengkapnya adalah alat musik semacam biola. Penjual yang selalu berjalan kaki ini, menandai kehdirannya dengan bunyi khas alat musik gesek itu.

Ada juga yang tampil dengan sentuhan kemajuan jaman. Sudah tidak pakai kentongan atau memukul-mukul mangkok dengan sendok seperti penjual bakso. Pedagang keripik sudah memakai rekaman. Begini bunyinya, “Keripik pisang, keripik singkong enak'e, rek....” begitu berulang ulang.

Dari semua cara penjual menjajakan dagangannya itu, satu yang paling saya ingat. Penjual es cendol dikampung saya, memakai sejenis klintingan yang biasa dikenakan keleher sapi untuk memanggil pembeli. Klintingan itu, yang diletakkan didekat pegangan gerobak dorong itu, sambil digoyang-goyang selalu. Sampai menimbulkan bunyi klinting-klinting. Sampai bunyi klinting-klinting-nya mengilhami kami, anak-anak, untuk menggubah sebuah lagu. Lagu itu secara khusus sering ditujukan kepada saya. Begini bunyi liriknya; “Inting-inting es, abang-abang setrup, edi rembes gak tau raup...”*****


Minggu, 05 Februari 2012

Khasiat Doa


PRASANGKA bisa menjadi petaka. Prasangka pula yang menyebabkan adanya mata-mata. Dalam perang dingin, sebenarnya peran para mata-mata tidak bisa dianggap dingin. Tentu saya tak hendak bicara tentang aksi spionanse yang sering menjadi setting film-film action kegemaran saya. Tetapi ini sekadar tentang prasangka. Tepatnya prasangka buruk. Dalam bahasa lain dibilang  su’udzon.

Barusan, karena lama tidak makan mie pangsit di lapaknya adik ipar, saya kesana dalam rangka minta gratisan. Tetapi, alamaaakkkk..., ramai nian yang lagi antri. Tentu saya tahu diri. Tidag ujug-ujug minta didulukan berdasar azaz kekeluargaan. Tidak. Saya harus membantu dulu. Seperti biasa saya pun lantas bantu-bantu mencuci mangkok, gelas atau mengelap meja.

Pelanggan yang datang terus mengalir. Sebagian besar membeli untuk dibawa pulang. Sampai kemudian adik saya itu kehabisan plastik pembungkus. Maka saya menawarkan diri untuk membelikannya di toko sebelah. Sebuah toko lama dengan pengelola baru.

“Beli plastik dua, dan penyedap rasa dua,” kata saya.

“Oo, membelikan penjual pangsit ya?”

Tentu saja saya mengiyakan pertanyaan penunggu toko itu.

“Saking ramainya sampai tak sempat membeli plastik sendiri,” seorang ibu, yang lagi momong didepan toko, menimpali. “Baru libur dari pulang kampung, jualannya ramai sekali,” lanjutnya.

“Tidak heran,” seorang bapak menyahut. “Setiap dari pulang kampung, dagangannya selalu laris.”

Nada bicaranya terdengar curiga. Konotasinya, pulang kampung itu dimaknai sebagai mencari  ‘sesuatu’ agar jualannya laku keras.

Sambil menunggu uang kembalian, saya diam. Mereka tentu tidak tahu kalau saya kakak si penjual pangsit itu. Juga, tentu saja mereka tidak tahu kalau adik saya tempo hari pulang kampung dalam rangka menengok bapak dan emak di desa. Dan bukan dalam rangka mencari penglaris.


Baiklah, sekarang saya ingin meninjaunya dari segi yang masuk akal saja. Begini; bagi pelanggan setia, beberapa hari lidah tidak merasakan masakan kegemarannya, tentu menimbulkan kerinduan yang sangat. Dan, sekalipun penjual makanan sejenis banyak sekali, kalau lidah sudah kadung cocok ke masakan penjual tertentu, sudah barang tentu  tak semudah itu mencari pelarian. Dan tadi, ketika tahu adik saya sudah buka, beberapa  pelanggan ingin menumpahkan kerinduannya pada yang namanya mie pangsit. Para pelanggan itu, tanpa berjanji datang dalam waktu nyaris bersamaan. Jadinya lapak tempat jualan yang tak seberapa luas menjadi penuh sesak. Ini yang rupanya dicurigai sebagai pakai penglaris. Itu pertama.

Kedua, saya harap ini juga bisa sampeyan  terima sebagai sesuatu yang masuk akal; pulang kampung dalam rangka menemui orang tua adalah sesuatu yang terpuji. Bukankah sering kita dengar petuah bahwa restu Tuhan harus melalui dulu restu orang tua (baca: ibu) dulu. Dan pulang kampung itu, menemui ibu dan bapak itu, adalah dalam rangka meminta doa. Doa kebaikan, tentu saja. Ketika ibu mendoakan, terkabul adalah suatu keniscayaan. Kebaikan apapun yang kita minta.

Menulis ini pun saya sedang rindu kepada ibu. Juga bapak tentu saja. Saya tahu, tanpa saya minta pun tentu beliau itu terus mendoakan semua anaknya, termasuk saya. Tetapi dengan datang langsung, saya kira sebuah doa akan makin terasa khasiatnya.*****