Senin, 27 Februari 2012

Nyai Roro Kidul Sudah Hajjah?

WALAU belum tentu setiap khotib sholat Jumat memiliki ilmu hipnotis, seringkali saya tertidur ditengah-tengahnya. Dan tidur itu, jujur saja, terlaksana antara tertidur atau memang sudah saya nawaitu terlebih dulu. Tetapi Jumat kemarin (24 Pebruari), saya benar-benar tidak tertidur atau menidurkan diri. Karena, belum sempat saya disentuh rasa kantuk, khutbah telah selesai. Benar-benar khutbah kategori Patas. Dan, jam duabelas lebih sepuluh menit, saya sudah tiba lagi di tempat kerja yang berjarak sekitar dua ratus meter dari masjid.

Jam kerja masih lama. Intinya, masih ada waktu lebih dari tiga puluh lima menit untuk istirahat. Dan saya menuju driver lounge untuk melampiaskan hasrat tidur. Kipas angin besar yang berputar di langit-langit menghembuskan kesejukan yang sepertinya akan bisa mempercepat proses tidur siang saya. Tetapi Wiratno, teman kerja saya yang juga ikut istirahat ditempat itu, malah dengan lancang memindah saluran televisi dari HBO ke TVRI. Ia yang memang aktif dikegiatan masjid dikampungnya, rupanya hapal betul kalau hari Jumat di jam segitu sedang ada siaran live dari masjid Istiqlal.

Benar saja; dan acara khutnah Jumat sedang baru saja dimulai. Mata saya yang terpejam (mungkin ditiup-tiup setan) malas sekali untuk sedikit saja melihat layar televisi. Tetapi rupanya si setan belum berhasil menyumpal lobang telinga saya. Makanya, saya masih saja mendengar isi khutbahnya. Ini dia, di masjid tadi khutbah hanya sejenis Kultum, di driver lounge ini khutbahnya bermenit-menit.

Karena mata saya terpejam, saya tidak tahu nama sang khotib yang tentu saja beberapa menit sekali tertulis dibagian bawah layar televisi. Yang saya ingat adalah, kali itu khotib membahas tentang perkembangan Islam dari zaman ke zaman ditinjau dari segi  local wisdom.

Diantaranya dipaparkan, untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa Sunan Kalijaga memakai media pewayangan. Tentu saja setelah dipermak sedemikian rupa. Karena dalam cerita pewayangan made in India, menurut khotib, Si Pendawa Lima itu ternyata memiliki satu istri bernama Drupadi. Si Dewi ini melakukan praktik poliandri, sesuatu yang tidak Islam sama sekali. Makanya Sunan Kalijaga memodifikasi menjadi si Pendawa Lima itu adalah anak-anak dari Dewi Kunti.

Masih menurut sang khotib, laku penyebaran Islam dengan model begitu, belakangan masih saja terjadi. Salah satunya adalah yang dipakai beberapa 'orang pintar' di beberapa daerah yang masih sangat kental dengan kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Tentang Nyai Roro Kidul, misalnya. Disebutkan sang khotib, ada 'orang pintar' yang dengan berani bilang kepada orang yang sering meminta jasanya bahwa Nyai Roro Kidul itu adalah seorang muslimah. Dan sekarang sudah bergelar hajjah!

Dalam kemampuan supranaturalnya, 'orang pintar' tadi melihat sang penguasa laut selatan itu sekarang sudah tampil tertutup, berbusana muslimah. (Tidak lagi menggunakan busana yang dulu sering kita tonton lewat film-film Suzana atau yang akan diteruskan oleh si Jupe yang sepertinya hobby sekali menonjolkan bagian tubuh yang sebenarnya sudah menonjol itu.) Makanya, kepada setiap pasien-nya, si 'orang pintar' ini menganjurkan agar setiap wanita yang datang meminta tolong kepadanya agar berbusana muslimah.

Saya tentu tidak serta merta menuduh para wanita yang sekarang sedang menjadi sorotan publik karena berbagai kasus hukum, selalu saja mengubah penampilan kesehariannya , paling tidak, dengan berkerudung, adalah para pasien si 'orang pintar' yang dalam setiap lakunya selalu meminta tolong kepada Nyai Roro Kidul tadi. Tetapi kalau memang begitu kecenderungannya, jangan salahkan para penjual kerudung bila dalam doanya sesekali meminta agar lebih banyak lagi wanita yang terkena kasus agar barang dagangannya semakin laku.

Salam.*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar