"CAK, mbak Tatik hari Minggu kesini. Sampeyan diminta menjemput di Bungurasih," kata Yunan Widayat, saudara serumah kost, yang baru tiba dari sambang desa.
"Berangkat dari Mloko jam berapa?" tanya saya.
"Jam delapan pagi,"jawabnya.
Karena tidak ingin mbak Tatik yang lebih dulu tiba di Bungurasih, jam sepuluh pagi di hari Minggu itu saya sudah meluncur dari Rungkut ke terminal. Perhitungan matematis saya, naik angkot lyn H4J dari Rungkut turun Jemursari, lalu oper bis kota ke Bungurasih tak mungkinlah memakan waktu sampai satu jam. Atau paling lambat, kalau pak sopir memperlambat laju angkotnya untuk cari penumpang, jam sebelas saya pasti sudah sampai ke TKP. Dan kalau mbak Tatik berangkat dari Mloko (sebuah desa yang terletak antara Kasiyan dan Kencong di Jember sana)jam delapan, paling lambat pula jam satu siang sudah nyampai Bungurasih.
Ketika itu waktu tempuh masih bisa dikira, karena luapan lumpur yang tak terkira itu masih belum merongrong wilayah Porong. Bus-bus masih bisa mak wuzzz di jalan tol mulai Gempol.
Artinya, di terminal saya masih bisa nyantai baca-baca koran. Diterminal ini pula saya punya cerita nakal. Karena saya sempat kost di Bungurasih Timur tak jauh dari terminal ini beberapa bulan lamanya. Dan saban malam ngeluyurnya ya ke tempat ini. Tapi lain kali saja saya tulis. Biar tidak saling jegal dengan acara penyambutan kedatangan kakak perempuan saya ini.
Mulai jam sebelas saya menunggu. Dan menunggu memang jemu, tapi saya yang sudah berhenti merokok kala itu, berusaha membunuhnya dengan cara jitu; membaca. Sambil selalu melirik setiap kali bus AKDP dari Jember (yang didominasi kelompok Akas)datang. Satu jam, mbak Tatik tak jua datang. Dua jam, juga belum. Saya mulai bimbang. Jangan-jangan?
Ya, -jangan kakak saya itu tak melihat saya dan malah mencari-cari saya. Semakin mencari semakin menjauh. Ya, jangan-jangan? Saya berhenti membaca koran. Bukan kerena apa, tapi karena sudah khatam, sampai sak iklan-iklannya.
Kok gak di HP saja? Wah,waktu itu si HP masih belum usum.
Jam tiga sore, hati saya makin tidak lega. Jangan-jangan ada apa-apa dijalan. Saat itu pokoknya tidak ada yang bisa melarang saya untuk jangan ber-jangan-jangan. Tapi mau bagaimana lagi. Akhirnya, ketika maghrib datang menjelang, saya memutuskan balik kanan. Pulang dengan kusut ke Rungkut.
"Darimana, cak?" sapa Yunan Widayat begitu saya dengan lesu masuk rumah kost.
"Tak tunggu sampai pikun mbak Tatik tak datang," jawab saya.
"Lho, sampeyan dari Bungurasih to?!"
"Iya."
"Waduh, cak. Mbak Tatik itu kesininya hari Minggu depan lagi, bukan hari Minggu ini..."
Glodakkk!!!!*****
Sabtu, 28 Mei 2011
Trik Cantik
PERTIGAAN Sukodadi Lamongan; tukang ojek saling berebut penumpang. Setiap orang yang baru turun dari bus adalah obyek yang jadi sasaran pengojek. Salah satunya saya. Tapi saya cuek saja. Terus berjalan, seakan telah ada yang menjemput. Padahal itu hanya trik. Agar saya dapat memilih ojek dengan motor paling anyar. Rugi kan, kalau tawar menawar di pinggir jalan dengan tukang ojek yang kita tidak tahu dia pakai motor dari spesies apa dengan usia motor kelahiran tahun berapa.
Di bawah pohon kersen di sebelah toko buah saya menuju. Disitu ada tukang ojek yang pasif saja. Tak ikutan berebut penumpang di pinggir jalan. Mungkin dia berpikir, 'kalau sudah rejeki gak bakal lari'. Saya kira pengojek yang satu ini punya nilai kecerdasan spiritual lebih baik dari yang lain, yang saling rebutan penumpang. Nilai plusnya lagi, ia berdiri sambil menyandarkan pantatnya di jok motor keluaran terbaru yang masih kinyis-kinyis catnya.
Tawar menawar harga pas tancap gas, kata Iwan Fals. Tukang ojek yang saya pilih masih setengah baya.
"Dari mana, pak?," tukang ojek bertanya, mungkin sebagai pengakraban saja, sebelum tancap gas betulan.
"Dari Surabaya," jawab saya.
"Di Surabaya kerja apa?" tanyanya lagi.
Lhadalah...., sejujurnya saya sebenarnya lagi males ngomong. Sekaligus sejujurnya saya juga tak biasa bicara tak jujur. Maka, dengan kadar kejujuran penuh, "Kerja nguli di bangunan...," jawab saya.
Tukang ojek malah tertawa, suara tawa yang nyaris mengalahkan suara deru motor yang sliwar-sliwer di jalan ini.
"Batas antara kuli dan majikan tipis sekali, pak," katanya. "Di Surabaya atau di tempat lain boleh jadi bapak adalah kuli. Tapi sekarang, saat ini, sayalah kuli bapak. Dan bapaklah majikan saya...."
Oh? Tidak salah, ia tukang ojek yang cerdas, batin saya.
"Ayo kita jalan, agar tak kesorean sampai di Mayong," ajak saya sambil menyebut nama desa mertua saya di kecamatan Karangbinangun.
"Mari," katanya sambil mengajak saya berjalan.
"Lho, kok jalan?!"
"Iya. Itu motor saya disana," katanya sambil menunjuk motor tua renta dengan penampilan yang sudah nelangsa.
"Lha motor yang tadi sampeyan sandari itu punya siapa?" tanya saya menunjuk motor anyar di bawah pohon kersen.
"Oh, itu punya orang yang lagi belanja buah di toko sebelah."
Ah, sekali lagi saya tidak salah; ia sungguh tukang ojek yang cerdas. Buktinya, trik saya kalah cantik dibanding punya dia.*****
Di bawah pohon kersen di sebelah toko buah saya menuju. Disitu ada tukang ojek yang pasif saja. Tak ikutan berebut penumpang di pinggir jalan. Mungkin dia berpikir, 'kalau sudah rejeki gak bakal lari'. Saya kira pengojek yang satu ini punya nilai kecerdasan spiritual lebih baik dari yang lain, yang saling rebutan penumpang. Nilai plusnya lagi, ia berdiri sambil menyandarkan pantatnya di jok motor keluaran terbaru yang masih kinyis-kinyis catnya.
Tawar menawar harga pas tancap gas, kata Iwan Fals. Tukang ojek yang saya pilih masih setengah baya.
"Dari mana, pak?," tukang ojek bertanya, mungkin sebagai pengakraban saja, sebelum tancap gas betulan.
"Dari Surabaya," jawab saya.
"Di Surabaya kerja apa?" tanyanya lagi.
Lhadalah...., sejujurnya saya sebenarnya lagi males ngomong. Sekaligus sejujurnya saya juga tak biasa bicara tak jujur. Maka, dengan kadar kejujuran penuh, "Kerja nguli di bangunan...," jawab saya.
Tukang ojek malah tertawa, suara tawa yang nyaris mengalahkan suara deru motor yang sliwar-sliwer di jalan ini.
"Batas antara kuli dan majikan tipis sekali, pak," katanya. "Di Surabaya atau di tempat lain boleh jadi bapak adalah kuli. Tapi sekarang, saat ini, sayalah kuli bapak. Dan bapaklah majikan saya...."
Oh? Tidak salah, ia tukang ojek yang cerdas, batin saya.
"Ayo kita jalan, agar tak kesorean sampai di Mayong," ajak saya sambil menyebut nama desa mertua saya di kecamatan Karangbinangun.
"Mari," katanya sambil mengajak saya berjalan.
"Lho, kok jalan?!"
"Iya. Itu motor saya disana," katanya sambil menunjuk motor tua renta dengan penampilan yang sudah nelangsa.
"Lha motor yang tadi sampeyan sandari itu punya siapa?" tanya saya menunjuk motor anyar di bawah pohon kersen.
"Oh, itu punya orang yang lagi belanja buah di toko sebelah."
Ah, sekali lagi saya tidak salah; ia sungguh tukang ojek yang cerdas. Buktinya, trik saya kalah cantik dibanding punya dia.*****
Jumat, 27 Mei 2011
Tarif Terserah yang Tak Lebih Murah
SUDAH agak terbiasa dengan harga-harga dikota,pulang kedesa menjadi pernah ternganga-nganga.Tarif angkot yang di Surabaya jauh-dekat tigaribu rupiah,didesa masih ada yang bertarif 350 perak,tergantung jarak.Rujak yang dikota limaribu,didesa satu porsi jumbo cuma seribu.
Suatu waktu saya harus pulang kampung menghadiri hajatan famili.Letak rumahnya nun jauh di sana.Rute jalan desa yang membelah kebun tebu.Itupun,didahului naik angkot (angkutan pedeaan ding) oper tiga kali,ditambah naik becak dari Pasar Umbulsari ke Wonoroto.Tarifnya?
"Terserah,"kata abang,eh bapak,becak yang tak seberapa kekar.
Mau bagaimana lagi,tak bisa memilih yang lain.Karena memang sudah gilirannya.Dan,bukan itu masalahnya.Tetapi tarifnya."Bilang dong,pak.Berapa? Kan saya bisa nawar atau apa?"kata saya.
Si bapak becak malah terbahak,"Tak mungkinlah kemahalan,seikhlasnya saja..."
Nah,nah...
Daripada kian lama kian tak jelas,saya naik saja.
Mula-mula lewat jalan desa yang telah beraspal,lalu belok kanan masuk jalan makadam.Terus.terus....nah ini dia!Masuk jalan sawah!Becak tidak digenjot,tapi si bapak turun dan mendorongnya.Jalan susah karena basah habis hujan.Untunglah hujan sudah reda.Karena saya tak tahu,kalau hujan sedang berlangsung,apakah bapak becak ini sudah sedia tudung sebelum hujan apa belum?Kalau tak tersedia,pastilah saya senasib dengan kisah yang dialami M Faizi Guluk-guluk.
Ketegaan saya jatuh berkeping-kepin.Tapi ikutan turun tak boleh.Dengan perasaan yang hancur lebur,saya tetap nangkring diatas becak yang gagal saya nikmati enaknya.
Peluh bercucuran dan nafas yang ngos-ngosan berpacu dalam melodi sore itu, diantara sawah tebu.Duhai,ini bukan keindahan.Ini lebih dari ...entah apa.
Setelah nyaris setengah jam perjuangan itu,sampailah pada tujuan.Tetapi bukankah tarif belum (atau tidak) bersetujuan?Berapa? Oh,bingung saya.Lalu saya sibuk dengan singkat membuat perbandingan. Dari Pasar Pahing Rungkut ke gang 2 tempat tinggal saya,naik becak tarifnya lima ribu.Padahal hanya dekat saja.Padahal jalannya mulus saja.Padahal yang disini lebih kacau-balau jalannya.Lalu berapa?Ohiya,ini desa!Yang seporsi rujaknya cuma seribu.Sebungkus cenil cuma duaratus!
Setelah berterima kasih,seterima kasih terima-kasihnya,saya tegakan menyodorkan ini; lima ribu rupiah plus separo bungkus rokok Saritoga.
Beliaupun,yang belum lepas ngos-ngosannya,mengucap kata yang sama.Terima kasih.Maknanya; saya yang ngasih beliau yang nerima.Tapi sudah pantaskah nilai segitu,dibanding segala derita sepanjang jalan?Ah,sudahlah.Bukankah awalnya sudah ada satu kata: terserah. Tapi saya belum bisa menyerah dengan yang baru saja saya alami.
Maka,lalu saya nanya ke adik dan ibu saya (yang sama-sama gemuknya) yang tadi juga naik satu becak berdua pada kloter pertama dengan rute yang sama.Tapi berhasil menawar hingga tarif 'resmi'-nya.
"Seribu lima ratus,"kata adik saya.
Duh,hidup,hidup....
Suatu waktu saya harus pulang kampung menghadiri hajatan famili.Letak rumahnya nun jauh di sana.Rute jalan desa yang membelah kebun tebu.Itupun,didahului naik angkot (angkutan pedeaan ding) oper tiga kali,ditambah naik becak dari Pasar Umbulsari ke Wonoroto.Tarifnya?
"Terserah,"kata abang,eh bapak,becak yang tak seberapa kekar.
Mau bagaimana lagi,tak bisa memilih yang lain.Karena memang sudah gilirannya.Dan,bukan itu masalahnya.Tetapi tarifnya."Bilang dong,pak.Berapa? Kan saya bisa nawar atau apa?"kata saya.
Si bapak becak malah terbahak,"Tak mungkinlah kemahalan,seikhlasnya saja..."
Nah,nah...
Daripada kian lama kian tak jelas,saya naik saja.
Mula-mula lewat jalan desa yang telah beraspal,lalu belok kanan masuk jalan makadam.Terus.terus....nah ini dia!Masuk jalan sawah!Becak tidak digenjot,tapi si bapak turun dan mendorongnya.Jalan susah karena basah habis hujan.Untunglah hujan sudah reda.Karena saya tak tahu,kalau hujan sedang berlangsung,apakah bapak becak ini sudah sedia tudung sebelum hujan apa belum?Kalau tak tersedia,pastilah saya senasib dengan kisah yang dialami M Faizi Guluk-guluk.
Ketegaan saya jatuh berkeping-kepin.Tapi ikutan turun tak boleh.Dengan perasaan yang hancur lebur,saya tetap nangkring diatas becak yang gagal saya nikmati enaknya.
Peluh bercucuran dan nafas yang ngos-ngosan berpacu dalam melodi sore itu, diantara sawah tebu.Duhai,ini bukan keindahan.Ini lebih dari ...entah apa.
Setelah nyaris setengah jam perjuangan itu,sampailah pada tujuan.Tetapi bukankah tarif belum (atau tidak) bersetujuan?Berapa? Oh,bingung saya.Lalu saya sibuk dengan singkat membuat perbandingan. Dari Pasar Pahing Rungkut ke gang 2 tempat tinggal saya,naik becak tarifnya lima ribu.Padahal hanya dekat saja.Padahal jalannya mulus saja.Padahal yang disini lebih kacau-balau jalannya.Lalu berapa?Ohiya,ini desa!Yang seporsi rujaknya cuma seribu.Sebungkus cenil cuma duaratus!
Setelah berterima kasih,seterima kasih terima-kasihnya,saya tegakan menyodorkan ini; lima ribu rupiah plus separo bungkus rokok Saritoga.
Beliaupun,yang belum lepas ngos-ngosannya,mengucap kata yang sama.Terima kasih.Maknanya; saya yang ngasih beliau yang nerima.Tapi sudah pantaskah nilai segitu,dibanding segala derita sepanjang jalan?Ah,sudahlah.Bukankah awalnya sudah ada satu kata: terserah. Tapi saya belum bisa menyerah dengan yang baru saja saya alami.
Maka,lalu saya nanya ke adik dan ibu saya (yang sama-sama gemuknya) yang tadi juga naik satu becak berdua pada kloter pertama dengan rute yang sama.Tapi berhasil menawar hingga tarif 'resmi'-nya.
"Seribu lima ratus,"kata adik saya.
Duh,hidup,hidup....
Kamis, 26 Mei 2011
Mbah Kung (Fu)
RAMBUTNYA sudah berseragam putih.Tak sehelaipun yang mbalela ngeyel pakai hitam.Kompak.Sekompak giginya yang mulai undur diri satu per satu.Walau begitu,ingatannya tak kendur mundur."Tahun selikur,"begitu beliau mengingat kelahirannya.Tak terlulis di akte,mungkin.Tapi saya memercainya saja.Sepercaya saya atas segala cerita di masa mudanya dulu.
Tentang keahliannya berpencak silat.Tentang peperangannya di masa Belanda sampai bergabung sebagai tentara sukarela (begitu selalu disebutnya) di jaman Jepang.Beliau,yang sekalipun sudah sepuh,tak bersemangat rapuh.Ada saja yang harus menjadi kesibukannya.Apapun itu.
Anak-anakku dan anak-anak kakak-adikku memanggilnya mbah Kung.
Suaranya khas.Logatnya khas.Bahkan bunyi sendal jepitnya ketika berjalan,juga khas.Sangat hapal betul telinga ini mengenalnya.Semengenal kami atas suara dehemnya.
"Jangan tidur dulu,tunggu brekat datang,"pesannya selalu setiap berangkat kondangan.
Kami,anak-anaknya,taat setaat-taatnya.Karena,kapan lagi bisa makan enak kalau gak ada kondangan begini.Nasi gurih,sesuwir daging ayam.Sejumput mihun,sepotong tahu atau tempe.Duh,sungguh itu sebagai hidangan agung,disaat saban hari bernasi jagung.
Itulah mengapa rasa memang tidak pernah bohong.Maksudnya,sekalipun suatu pagi ibu menyulut kayu di tungku agar dapur terlihat berasap,agar sama seperti dapur-dapur para tetangga,tetaplah perut ini berkonser keroncong.Karena ibu sedang berbohong.Lebih tepatnya lagi,ibu sedang bersandiwara.
Sudahlah,itu masa lalu.Lalu sekali.Tapi selalu saja,kalau sampeyan perhatikan,saya sering menuliskan cerita lalu.Sekarang ingin saya sudahi.Stop.Sekarang saya hendak menulis tentang simbah Kakungnya anak-anakku.
Mbah Kung selalu suka memakai baju batik lengan panjang bersaku tiga.Dua dibawah (kanan-kiri) satu lagi di dada.Isinya;saku atas adalah kamar 'pak-lopak';Tempat tembakau lengkap dengan semua pemain pendukungnya.Ada cengkeh cap Keris atau cap Dokar,ada kertas rokok cap Pagupon.Satu lagi alat berbahan bakar bensin;korek api.Rokok khas itu,orang kampung kami menyebutnya tingwe.Tentu itu bukan bahasa Mandarin.Ia hanyalah berarti ngelinting dhewe.
Untuk saku bawah,isinya juga amat penting bagi mbah Kung.Satu minyak angin,satunya lagi obat tetes mata.Dan perjalanan kemanapun,kalau ketiga perbekalan itu tak komplit kalau satu saja yang tak terbawa.
Sepulang dari menengok saya di Surabaya,saya punya tugas mulia.Mengantar mbah Kung pulang kampung.Karena,tak mungkinlah saya tegakan serenta itu balik ke Jember seorang diri.
Dari Rungkut,saya bawa mbah Kung ke terminal Joyoboyo.Dan ketika saya berkonsentrasi mengumpulkan segenap indra ke dompet saya (karena Joyoboyo saya yakini sebagai sarang pencopet),mbah Kung justru telah menangkap tangan copet yang nyelonong merogoh saku atas.
"Jangan begitu kamu,"kata mbah Kung dengan logat Madura yang kental."Seenaknya sendiri merogoh saku orang.Gak sopan tahu!"
Ya,mbah Kung hanya menilai dari segi kesopanan saja.Karena,toh si copet telah salah sasaran.Ia tentu tidak tahu,saku atas hanyalah tempat penginapan perlengkapan rokok tingwe mbah Kung.
Ah,suatu hari mungkin saya perlu belajar kecepatan tangan mbah Kung yang terbukti bisa mengalahkan kecepatan tangan si copet.
Atau itu hanya sekedar beruntung saja.Karena dilain waktu mbah Kung pernah tidak untung.Itu menyangkut isi dua saku bawah baju batik kesayangannya.
Mbah Kung tetaplah suka kemana-mana.Walau sepuh,beliau sangat semangat menyertai salah satu cucunya yang menikah di Kedewan Bojonegoro sana.Jember-Bojonegoro tentu bukanlah jarak tempuh yang pendek.Apalagi untuk usia mbah Kung yang sudah sembilah puluh.Byuh!
Asal ketiga bekal itu lengkap,tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang mbah Kung.Ada 'pak-lopak',ada minyak angin,ada obat tetes mata.Sip.Perjalan melambung dari Jawa Timur,ngincipi Cepu Jateng lalu menusuk masuk ke Jawa Timur lagi.Uh,Kedewan.
Setelah menembus hutan di tengah malam,rombongan merapat tepat tengah malam.Sebuah kedatangan besan yang kurang sopan.Tapi tamu adalah raja.Perut perih telah terbayar oleh hidangan di tengah malam sekaligus dikampung tengah hutan.
Penat lutut diperjalanan,saya selonjorkan.Kantuk menusuk.Serombongan sibuk menuju tempat melampiaskan kantuk.Mbah Kung sibuk merogoh saku bawah.Perih mata karena terterpa angin dari jendela bus mini non AC ini,membuat mbah Kung ingin menetesinya dengan obat mata yang beliau bawa.Dan...,"Aduh panas,panas.Perihhh..."erang mbah Kung mengagetkan semua yang nyaris terbang ke alam mimpi.
Rupanya mbah Kung keliru menetesi matanya dengan minyak angin.Ah,jangan-jangan jurus Kung fu tangan mbah kung hanya untuk pencopet,bukan untuk obat mata.
Semalan kami mengkhawatirkan mata mbah Kung.Karena semalaman mbah Kung sambat perih.Pagi menjelang,kata mbah Kung,perih sudah berkurang.Agak siang sudah tersa lebih padang.Kemudian,"Iya,lebih padang sekarang.Mata tersa segar.Minyak angin ternyata bisa bikin mata jadi terang."kata mbah Kung.
Dari nada bicaranya saya tahu itu tidak guyon.Itu sungguh-sungguh.Tapi kami sungguh tidak ingin mencobanya.Tidak pula mengijinkan mbah Kung menetesi matanya dengan minyak angin lagi.
Rabu, 25 Mei 2011
Tin
“Tin
sudah bercerai lima bulan yang lalu. Sam nikah lagi. Sal di Bali. Dia
sukses sekarang. Salonnya ramai. Sekarang dia sudah jadi ‘perempuan’,
baru operasi,” tulis Rin dalam pesan singkatnya.
Nyaris dua puluh tahun
sudah semua berlalu.
Bisa kontak lagi dengan Rin
setelah sekian lama lost contact, membuatku merasa hampir dua
puluh tahun lebih muda. Dan kota yang panas dan angkuh ini, kemudian
menjadi berbaik hati untuk sejenak memberiku waktu berhenti menjadi
sejenis robot. Lalu, kubiarkan langkah hati ini berlari riang menemui
nama-nama.
“Tin, kamu hebat.”
“Diminum,” ia
meletakkan segelas es jeruk di meja di depanku.
“Kamu tegar,” pujiku
lagi.
Mendengar itu ia menatap
tepat bola mataku, membuatku tahu ada bendungan yang nyaris runtuh di
matanya.
“Maaf...”
“Kenapa?”
“Itu, kata-kataku
barusan,” rasa bersalah kupersalahkan sebagai penyebab kegagapanku
ini.
Tin tersenyum. Ah, gingsul
itu...
Kunikmati seteguk es jeruk
melewati tengorokanku. Dinginnya berhenti sejenak tepat di dadaku.
Menimbulkan rasa aneh yang tiba-tiba hadir. Rasa yang juga pernah
kurasakan dulu. Dulu sekali. Ketika suatu sore Rin menemuiku.
Dengan pipi yang kemudian
bersungai-sungai kecil, berbaris kata mengiringinya. Kata yang perlu
diperam semalaman untuk ditetaskan di depanku sore itu.
“Kamu awet muda,” Tin
mengagetkanku.
Sekaligus juga menamparku.
Empat puluh tahun lebih dia bilang aku muda?! Oo, biarlah. Seperti
aku yang tetap membiarkan diriku masih saja sendiri. Dan itu tentu
Tin juga tahu. Walau tak bertanya. Karenanya pula aku tak perlu
bertanya mengapa ia masih memajang potret pernikahannya dengan Sam di
ruang ini.
“Seharusnya dulu kau
nikahi saja Rin.”
Minggu, 20 Februari 2011
sesal
rindu bertalu-talu
ditabuh pilu
malam tidur terlentang
lupa janji panjang
tentang
centang-perenang
cinta
uh
kau hanya melenguh
ah
ku hanya mengeluh
embun datang terlambat;
seperti cintaku yang pergi terlambat
Atas Nama Bawahan
SUATU ketika saya dan seorang teman diajak atasan saya ke rumahnya.Dan saya gagal membatasi 'jarak' kami; beliau atasan,saya bawahan.Begitu selalu,tak pandang waktu.
Pak Sigit Rahmat (nama atasan saya itu) membawa kami dari kantor ke rumahnya. Dan sedan putih kinyis-kinyis yang disopiri sendiri oleh atasan saya itu telah nongol dari parkiran ke bibir kantor.
Saya dan teman saya yang memang sama-sama 'katrok' jadi saling 'plerok' yang lalu memakai logika IQ yang sama-sama 'jongkok'; "dia atasan kami bawahan".Dan atas nama bawahan,kami pikir,tak pantaslah salah satu dari kami duduk di depan bersanding dengan atasan.
Jadilah kami berdua duduk di jok belakang dalam sedan kinyis-kinyis nan ber-AC isis ini. Sebuah penegasan tingkat strata kami; bawahan!
Tetapi,"Ayo duduk didepan,"suara atasan itu datang bak damprat yang menyengat."Kau kira aku ini sopirmu ya?"
Oh,atas nama atasan suara itu terdengar benar-benar benar.Ternyata lalu saya menyadari,(dalam kasus ini) ; atas nama bawahan,saya harus nurut...***
Pak Sigit Rahmat (nama atasan saya itu) membawa kami dari kantor ke rumahnya. Dan sedan putih kinyis-kinyis yang disopiri sendiri oleh atasan saya itu telah nongol dari parkiran ke bibir kantor.
Saya dan teman saya yang memang sama-sama 'katrok' jadi saling 'plerok' yang lalu memakai logika IQ yang sama-sama 'jongkok'; "dia atasan kami bawahan".Dan atas nama bawahan,kami pikir,tak pantaslah salah satu dari kami duduk di depan bersanding dengan atasan.
Jadilah kami berdua duduk di jok belakang dalam sedan kinyis-kinyis nan ber-AC isis ini. Sebuah penegasan tingkat strata kami; bawahan!
Tetapi,"Ayo duduk didepan,"suara atasan itu datang bak damprat yang menyengat."Kau kira aku ini sopirmu ya?"
Oh,atas nama atasan suara itu terdengar benar-benar benar.Ternyata lalu saya menyadari,(dalam kasus ini) ; atas nama bawahan,saya harus nurut...***
Kualat Duit Toilet
PERNAH sudah saya kemana-mana. Walau tentu tak sebanyak 'kemana-mana' Anda. Kemana-mana saya, antara lain ini; menggauli sekujur tubuh molek pulau Bali .(tentang tari pendet, klik disini) Termasuk mbambung di Ubung, terlunta tiada kerja di Kuta, nguli batu di Uluwatu, berlarian memaksiatkan mata di pantai Jimbaran, nyenyak pulas di Seminyak, atau tanpa pura-pura (untuk mengganjal perut) terpaksa mengambil buah sesajen di pura, termasuk nyaris tragis diamuk massa satu banjar yang kesetanan di Sesetan. Semua beraroma nelangsa. Walau belakangan menjadi semacam nostalgi. Nostalgi yang kalau dicecap menjadi berasa 'nano-nano'. Ada manis, ada asin, ada asem, ada-adaaa aja....!
Dan syukurlah,dalam 'kemana-mana' itu saya terhindar dari angan untuk 'njajan' di
Kedonganan.(?!)
Kalau semua ditulis, tentulah akan panjang. Makanya satu saja. Itupun kalau sebagai tayangan televisi, di bagian sudut atas harus ada tanda BO. Atau malah di bagian bawah ada running text: adegan tidak patut ditiru. Brutal? Tidak. Porno? Juga tidak. Hanya tidak layak tiru saja. Ini sekadar catatan ringan. Dan sama sekali benar-benar betul sungguhan saya alami (uh, kalimat apa pula ini!).
Begini, TKP: terminal Ubung-Denpasar. Waktu: tengah malam Waktu Indonesia Tengah. Tahun: sekitar akhir 80an.
Bersama beberapa teman, saya akan pulang kampung. Memilih waktu tengah malam karena adem. Walau ada 'karena' yang lain. Yakni supaya sampai rumah di Jawa juga masih pagi buta. Agar tiada kentara para pemuda harapan desa pulang bertangan hampa. Uf.
Malam itu terminal sudah tak terlalu ramai. Yang sesekali terdengar malah suara kondektur bus mencari penumpang dengan logat Probolinggo. Karena memang banyak armada bus berasal dari kota mangga itu. Menahan dingin malam saya hanya mendesis. Bukan desis ular, tapi desis kebelet pipis.
Menujulah saya ke toilet terminal. Gegas langkah saya jadi melambat begitu tahu penjaga toilet tidur mendengkur. Duduk membungkuk melampiaskan kantuk di atas meja. Saya membaca mantra meringankan tubuh seperti Brama Kumbara ala sandiwara radio Saur Sepuh. He, he... Kalau masuknya gak tahu, dan keluarnya juga gak ketahuan: terhindarlah saya dari membayar uang pipis yang cuma 500 rupiah itu!
Masuk, penjaga ngorok. Pas keluar (dengan segenap ilmu meringankan tubuh), "Bayar, mas," suara itu bukti ajian saya tidak mandi, tidak mempan.
"Gak ada uang kecil," ini jurus ke dua saya.
"Ada kembaliannya kok," tangkisnya masih dengan jurus ngantuk. Weladalah, apes tenan iki!
Padahal yang saya bilang uang besar itu hanya 20 ribu. Nilai segitu menjadi besar karena cuma itu satu-satunya penghuni dompet saya. Pendekar ngantuk itu lamaaa... sekali menghitung uang kembalian saya. Dengan kusut akhirnya saya menerima segenggam uang yang juga kusut itu. Sambil bersungut, saya menghitung uang kembalian itu, dan... Ahaa, menjadi 29.500 rupiah! Dasar dewa ngantuk... Sekali pipis malah dibayar 9500, lha kalau 'beser', berkali-kali pipis, wah bisa hitung sendiri.
Mendapat 'rejeki nomplok', saya belikan uang pipis itu kue basah. Lumayan untuk ganjal perut.
"Lumayan, saya juga bisa segera pulang," kata pedagang asongan sambil ngeloyor pergi.
Saya ngeloyor menghampiri teman-teman saya, sambil menenteng satu tas kresek penuh kue basah bernilai 9500 rupiah. Dengan bangga saya ajak semua teman berpesta-pora. Tentu sebelumnya saya bumbui dengan kisah si 'pendekar toilet' ngantuk itu.
Dasar pada lapar, semua saling comot isi tas kresek hitam yang saya tenteng. Tanpa dikomando semua bareng-bareng memasukkan kue ke mulut masing-masing. Tanpa dikomando semua langsung 'gebres-gebres' ; bersamaan memuntahkan isi mulutnya.
"Mambuuu... !!!" sebareng makannya mereka berkata.
Tanpa dikomando, mata saya mencari si pedagang asongan tadi. Blas gak kelihatan! Mungkin sudah dimakan leak! Dan ketika saya menoleh ke penjaga toilet, tetaplah dia mendengkur. Dengkur yang menjadi bernada 'menyokorkan' (walah!) saya. Saya menjadi tak bisa bilang apa-apa. Kecuali satu kata, satu-satunya bahasa Bali yang saya bisa waktu itu; 'kleng' !!! ****
Jumat, 18 Februari 2011
Malam dalam seutas cinta
secarik sms terlempar
ke rumah tua
di sebuah kursi bambu;
tiada aroma bunga yang dirindui
tiada aroma rindu yang dibungai
malam menepi
berhenti
menyulut sebatang tentang
kunang-kunang yang padam
malam kembali tertatih
terseok
luka terlupa
lupa terluka
'pesanmu telah kuterima'
dia berkata
menyetujui perceraian sirri
malam ini
ke rumah tua
di sebuah kursi bambu;
tiada aroma bunga yang dirindui
tiada aroma rindu yang dibungai
malam menepi
berhenti
menyulut sebatang tentang
kunang-kunang yang padam
malam kembali tertatih
terseok
luka terlupa
lupa terluka
'pesanmu telah kuterima'
dia berkata
menyetujui perceraian sirri
malam ini
Kamis, 10 Februari 2011
Lalu
"MASIHKAH kamu tak lupa aku?"
"Tak,"jawabmu pendek,tapi masih serenyah dulu.
Ingin kucubit hidung mungilmu,karena gemesku.Tapi aku telah tak berhak untuk itu.Telah.Karena hidung mungilmu itu,juga segalamu,adalah milik Ku.
Ah,Ku.
Aku tak hendak mencemburui dengan laksana seekor babi buta.Sejak dulu aku telah melihat kesetiaan Ku menantimu.Ku telah sepantasnya mendapatkanmu.Walau dulu,dulu sekali,aku tak suka setiap kali Ku mendekatimu.Karena aku juga selalu ingin tak jauh darimu.
"Berapa lama ya kita tak jumpa?"engkau memecah segelas lamunku.
"Lama'"jawabku."Lama sekali"
"Seusia sulungku lebih dua tahun,"terangmu.Masih renyah.
Tapi kuping yang mendengarmu ini memerah.Tak marah aku.Tak.Karena tak ada hak aku untuk begitu.Juga saat Ku memenangkanmu atas aku.Yang membuat aku pergi sejauh-jauhnya dari hatimu.Walau semakin jauh terasa ada serat yang menjerat isi hatiku.Mungkin aku tak selayaknya cengeng begitu.Tak.
"Masih betah sendiri nih?..."
Duh,tanya itu.Tak adakah kata lain untuk kau ucapkan,batinku meronta.
"Adakah yang masih kau tunggu?"
Kupandang dengan lancang bola matamu,"Ada,"jawabku
"Siapa?"tanyamu dengan bola mata sebening dulu.
"Bulan purnama"
"Baru kemarin,"jawabmu.
"Memang selalu begitulah aku.Selalu terlambat..."
"Ragumu itu,masalahmu"
"Lalu,"panggilku."Hanya kamu yang tahu aku.Iya.Itu setelah kamu menjadi milik Ku baru aku sadari.Sungguh beruntung Ku memilikimu.Aku tahu Ku.Karena akupun juga sahabatnya.Seperti engkau yang dulunya hanya menyahabati Ku.Dan rasa itu datang bersama waktu.Dan karena waktu pulakah hingga engkau memilih Ku?"
"Tidak,"ujarmu."Tidak sekadar soal waktu.Tapi soal ragumu."
Aku diam.Dan diam-diam membenarkanmu.
Pertemuan yang tak diduga itu,melahirkan dugaanku yang membenar.Di bandara ini aku memandang yang lalu lalang.Juga memandang dalam-dalam Lalu Laksmi;kamu,teman sekolahku dulu.
"Percayalah,aku tetap ingat kamu,"katamu."Tapi aku tak bisa tak menyetiai seseorang yang menumpahkan kesetiannya sepenuh hati.Didalamnya tak kutemui sebutirpu ragu.Semua bisa begitu kalau mau.Termasuk kamu...."
Lalu menatapku dalam.Tatapannya,ditambah kalimat yang ia ucap barusan,itu tamparan bagiku.Tapi aku bisa apa kalau memang itu benar.
Sampai ketika ia terbang menuju kota tempat Ku bertugas,aku malah terbang ke masa lalu mengenang saat aku,Lalu dan Ku sebagai tiga sahabat.
Saat ini,di bandara ini,ketika bunyi mesin pesawat meraung-raung hendak terbang,aku ingin pula menerbangkan keraguanku.Melesat setingginya,dan tak kembali lagi.
Kamis, 22 Oktober 2009
Program KB Khusus
SEBAGAI negara dengan populasi penduduk yang sangat besar, perlu dibuat progam pengendali laju pertumbuhan penduduk. Tercetuslah program Keluarga Berencana. Maka; di gapura-gapura, juga pada pecahan uang logam nominal tertentu, tergambar bapak-ibu menggandeng dua anak. Pesannya jelas: dua anak cukup. Ya, dua.Yang pada tahun 80-an angka 'dua' sangat bisa dipolitisir.
![]() |
| Panah penunjuk arah ke KB. Binatang. Foto: Dok. Pribadi. |
Sukses dengan program KB untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, kini Indonesia (diam-diam) menggelar KB khusus binatang. Ini tentu penting bagi Anda yang punya hewan piaraan dirumah yang angka kelahirannya relatif tinggi. Misalnya kucing, anjing atau hamster. Tetapi belum ada keterangan rinci apakah kontrasepsi yang disediakan persis seperti yang dipakai manusia.
Kalau Anda berminat, ada ancer-ancer alamatnya; dari jalan raya Margorejo dekat Giant Hypermarket belok kanan searah dengan Darmo atau Wonokromo. Hanya itu. Karena pada papan penunjuk arah, tidak disebut nama dokter maupun nama klinik khusus KB binatang ini. Tetapi,kalau urusan KB begini,tentu kita bisa kontak BKKBN. Coba saja!*****
Selasa, 06 Oktober 2009
Benci tapi Lindu
GAK ada hujan gak ada longsor, tiba-tiba 'mak-bedunduk' Karib, sahabat terkarib mas Bendo nongol. Ada apa?
"Aku rindu."
Ah, mbelgedhes!
"Sumpah" tandasnya.
Mas Bendo mecucu. Rindu?! Kata apa itu. Adalah satu hil yang mustahal (maap, pinjem punyane wong Jombang; Asmuni) bila Karib punya sebentuk kerinduan. Tapi kali ini ada yang tampak sungguh-sungguh. Bukan mencerminkan kerinduan, tapi lebih pada penampakan kesedihan.
"Berapa hari kamu gak ngrokok?" goda mas Bendo.
"Aku sedang marah, marah dan benci" sanggahnya.
"Pada siapa?"
"Mas Ebiet G. Ade"
"Lhadalah, kenapa?"
"Berita Kepada Kawan itu"
"Oooo, lagunya?"
"Sering diputer, artinya ada tsunami, gempa, dan segala macam bencana."
Karib, Karib....
Lalu diam. Dan asyik pada angannya masing-masing. Tentang Ambacang. Tentang gunung Tigo. Tentang yang terkubur itu. Tentang TV One dan Metro yang jor-joran. Tidak hanya 'perang' paling awal liputan linang air mata di ranah Minang. Tapi juga sampai Riau. Bos mereka berebut puncak pohon rindang; beringin. "Sampai terkesan menomorduakan nilai berita, menomorsekiankan objektifitas demi segenggam rivalitas," gumam Karib.
"Wih, kamu kok makin cerdas," kata mas Bendo. "Tapi kok makin sering hilang. Gak pernah SMS aku."
"SMS?! Kuno, nDo."
"Gayamu, Rib"
"Sekarang jamannya Facebook, FB, FB...."
"Wih,...."
" Kamu masak masih tenggelam dalam nostalgia Vinna Panduwinata 'pak pos membawa berita dari yang kudamba', iya kan, nDo? Atau dit, dit, dit pager-ku berbunyi dit, dit, dit begitu bunyinya...Itu juga kuno, nDo. Bahkan Trio Macan 'bang sms sipa ini bang...' juga sudah lewat. Sekarang jamannya Saykoji; 'online,online....'," yang terakhir Karib bergaya kayak si tambun Igor.
"Edaaannn," puji mas Bendo.
Karib nyengir kayak kuda. Seakan pamer giginya yang jajaran tengahnya agak menguning. Agak bermotif batik .Mirip parang rusak. Ah, atau parang kusumo. Senyumnya ikhlas betul. Tak ada yang disembunyikan. Termasuk sepotong kecil kangkung yang nyelempit di sela giginya sisa sarapan kemarin pagi. Ah, Karib...
Hilang sudah benci yang diusungnya pas datang tadi. Ada sorot rindu yang memancar di bola matanya yang bulat. Bulat dan sedikit keruh. Sekeruh rautnya yang abstrak. Sulit dideskripsikan. Kecuali gigi batik dan mata keruhnya. Tapi sorot rindu itu. Begitu kentaranya. Nyata. Tampak nyata. Kuat. Rindu yang aneh. Rindu yang teramat kuat. Mengguncang. Menggetarkan. Tulus. Mencari kesejatian. Mereposisi diri pada sunnatullah, kata cak Nun.
Dua sisi yang saling merindu. Bertemu. Berangkulan, dalam-dalam. Kerinduan yang sungguh-sungguh me-lindukan. Disana, di ranah Minang.*****
Langganan:
Postingan (Atom)

