Minggu, 06 Mei 2018

W A

SEBAGAIMANA ketika teman kerja sudah pada pakai Siemens C35 dan ponsel yang lagi musim kala itu, saya masih saja 'nyengkelit' pager merek Motorolla dengan rantai yang terikat di celana, kini saya juga ketinggalan kereta. Ketertinggalan itu sedemikian jauhnya, saya malah tak pernah menikmati zaman orang ngobrol pakai BB. Katrok ya? Ben!

Tempo hari, saat yang lain ngobrol ini-itu pakai whatsapp, saya sudah merasa cukup hanya dengan bersenjata ponsel jadul Nokia 130 yang batterynya gak habis-habis itu. Selain sudah dual SIM Card, ia bisa pula dijejali kartu memory. Agar seimbang dengan usia, nyaris semua lagu disitu hanyalah berjenis tembang lawas dari Utha Likumahuwa, Broery Marantika, Tito Sumarsono, Arie Wibowo atau nama-nama yang kids zaman now perlu nanya via mbah Gugel dulu agar tahu.

Karena saya pernah mendengar orang bilang bahwa yang paling lama bertahan hidup adalah yang bisa beradaptasi terhadap perubahan, saya harus berubah. Memangnya hanya Power Rangers saja yang bisa! Sebagaimana saya yang awalnya antipati pada dangdut koplo, kini kuping saya mulai bisa menerima lagu sayang... apa kowe krungu, jerite atiku, mengharap engkau kembali..... dengan argumen; syairnya lebih santun dibanding zaman kuhamil duluan, sudah tiga bulan yang ampun joroknya itu. Saya tidak habis pikir; bagaimana lagu yang menggambarkan sebuah aib bisa dinyanyikan secara gembira. Sontoloyo tenan!

Kembali ke perubahan, di saat nyaris setiap jempol sibuk ber-whatsapp, saya lama-lama menjadi orang aneh yang cuma berbalas pesan via SMS pakai si N130 itu. Lebih-lebih sekarang semua urusan kerja dikomunikasikan pakai WA, alumni SD ada grup WA, alumni SMP ada grupnya, alumni SMA ada grupnya, alumni kuliah... (oh, saya gak pernah kuliah ding!) dan semacamnya. Agar tak dianggap som-som, saya ikut beberapa grup. Ya ada senangnya, ada pula rasa gimanaaa... gitu saat teman lama sering (sengaja atau tidak) cerita tentang kesuksesannya, mobilnya yang harus ganti setiap dua tahun, sambil posting sedang makan di resto ini, ngopi cafe itu. Saya langsung minder sambil mengunyah lauk sambel terong kesukaan dalam ritual makan malam yang kemalaman gara-gara sedari tadi khusyu' whatsapp-an.****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar