Selasa, 28 Februari 2017

Jangan Ambil Uang Sembarangan

SYAHDAN, saat kecil dulu istri saya pernah sakit parah. Sudah dibawa berobat kemana-mana belum sembuh juga. Kemudian, seperti lazimnya orang di kampungnya, dicarikan alternatif lain; ke 'orang pintar'. Dari si orang yang dipercaya punya kemampuan 'linuwih' itu, didapatlah titik terang. Bahwa, penyakit yang sedang diidapnya bukan typus atau malaria, tetapi gara-gara menemukan sejumlah uang di jalalan dan dibelikan jajanan lalu dimakannya. Intinya, uang orang yang jatuh di jalanan tidak boleh diambil sembarangan. Karena bisa jadi ada bala yang menyertainya.

Maka sejak itu, ibunya istri saya melarang mengambil uang entah milik siapa yang jatuh di jalan. Seperti tongkat estafet, wanti-wanti itu juga diteruskan oleh istri saya ke anak-anak.

Saat SD (MI) dulu, saat berangkat sekolah, anak sulung saya menemukan sejumlah uang di jalan, di dekat kuburan. Ingat petuah ibunya, uang itu tidak diambil dan cuma 'diamankan' dengan ditimbun kerikil di pinggir jalan, tak jauh dari uang itu ditemukan. Sepulang sekolah, anak saya menceritakan dengan bangga karena telah menuruti nasihat ibunya, sebuah pendapat yang saya sendiri kurang sependapat. Alasannya, menurut saya, karena tidak tahu uang itu mesti dikembalikan kepada siapa, bukankah lebih bermakna bila ia dimasukkan ke kotak amal di masjid saja?

Belum lama ini, di suatu pagi yang gerimis, saat berangkat kerja dengan buru-buru (karena berangkat agak kesiangan) saya melihat ada uang supuluh ribu di jalan. Kontan saya menghentikan motor dan mengamankan uang itu sementara waktu, untuk sore sepulang kerja akan saya masukkan ke kotak amal di musholla terdekat dari uang itu saya temukan.

Sorenya, dengan mantap saya merogoh 'saku depan' motor Vario, tempat uang yang saya temukan pagi tadi saya simpan di bawah lipatan Kanebo. Tujuannya, akan saya masukkan ke kotak amal musholla. Dan, wah, uangnya kok basah. Iya sih memang lap motor saya juga kondisinya agak 'mamel', tetapi bukankah uang kertas akan tidak sebegini keadaannya kalau kena air. Saya lebih perhatikan lagi, tertulis dengan huruf kapital di uang itu nilai nominalnya: SEPULUH RIBU SAJA. Oh, bukan rupiah ternyata.

Saya baru sependapat dengan istri kali ini, bahwa jangan sembarangan mengambil uang yang jatuh di jalanan. Terlebih bila uang itu hanyalah uang-uangan. *****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar